JOGJA- Harga minyak merk Minyakita di Pasar Kranggan, Kota Jogja mengalami kenaikan dan kelangkaan. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi di Pasar Beringharjo yang lokasinya masih dalam wilayah yang sama.
Pantauan Radar Jogja, banyak kios penjual sembako di Pasar Kranggan, Kota Jogja tidak memajang MinyaKita di setiap etalase. Mayoritas merek yang dipajang adalah merek yang umum ditemukan di pasar seperti Sunco, Hemart, Bimoli dan sebagainya. Dari sekian banyak kios, hanya ada satu kios milik Bu Ani yang menyediakan Minyakita, namun hanya satu karton.
"Stoknya ini tinggal dikit, tidak ada stok lagi karena susah nyarinya, langka," ujar Ani saat diwawancara di kiosnya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, kelangkaan tersebut mulai dirasakan pada Lebaran. Terlebih minyakita dengan kemasan 1 liter. Ia pun tidak tahu alasan adanya kelangkaan tersebut. Sales atau penyedia stok Minyakita juga sudah jarang berkunjung ke Pasar Kranggan. "Ini adanya kemasan dua liter, biasanya nggak pernah kulakan yang kemasan itu, tapi karena langka ya terpaksa," bebernya.
Baca Juga: Persiapan 90 Persen, 1.423 Calon Jemaah Haji Magelang Siap Berangkat ke Embarkasi Solo dan Jogja
Selain langka, minyak tersebut juga mengalami kenaikan harga. Biasanya harga per liter dibanderol sebesar Rp 18 ribu, namun sekarang naik menjadi Rp 22 ribu. "Kalau kemasan 2 liter harganya Rp 42 ribu," imbuhnya.
Kenaikan harga dialami pada bulan ini. Dampak dari situasi tersebut menjadikan konsumen kiosnya beralih ke merek minyak lainnya karena selisih harganya tidak jauh berbeda dengan minyak non-subsidi. Namun, kenaikan harga minyak juga terjadi di merek lain seperti Sunco yang tadinya seharga Rp 21 ribu menjadi Rp 23 ribu.
"Pada enggak jadi beli (Minyakita) gitu. Kalau sudah tanya harga, biasanya langsung pergi," paparnya.
Penjual sembako lainnya, Bu Lina, menambahkan banyak sales dari MinyaKita tidak mempunyai stok barang. Ia menduga kenaikan harga minyak disebabkan karena dampak geopolitik. Sebab, kelangkaan dan kenaikan harga Minyakita terjadi pasca ramai perang antara Amerika-Israel-Iran. "Biasanya sales rutin nyetok dua kali seminggu juga di toko saya, tapi udah beberapa hari ini tidak ada," ujarnya.
Baca Juga: Mahasiswa UAJY Tembus Final Global YDTC Hadirkan Solusi Banjir Berbasis AI
Kondisi tersebut membuat beberapa pembeli di kiosnya mengeluh. Bahkan, banyak juga yang mulai beralih ke minyak merek lain atau minyak curah. Ia berharap, pemerintah mempunyai solusi atas kondisi tersebut. Terlebih pangsa pasar Minyakita merupakan masyarakat yang masuk kategori tidak mampu. Terlebih bagi mereka yang mempunyai usaha jualan makanan matang kecil-kecilan.
"Kasihan juga kalau mau harus beli yang terlalu tinggi buat jualan. Mereka kan jadi bingung. Minyaknya mahal, dia mau menaikkan harga makanan yang mereka jual kan juga susah," paparnya.
Lain halnya di Pasar Beringharjo, Kota Jogja. Para penjual sembako di pasar tersebut mengaku stok dan harga MinyaKita relatif aman. Hal itu disampaikan oleh pemilik kios sembako, Joko. Menurutnya, stok MinyaKita masih ada.
"Kan dari Bulog itu, biasanya sekali pesan paling banyak lima karton," ujarnya.
Baca Juga: Kolaborasi Tim Dosen FTB dan FISIP UAJY Wujudkan Program Living Lab Melalui Hibah Bestari Saintek
Ia menjual MinyaKita dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sekitar Rp 19 hingga 20 ribu.Biasanya konsumen minyak merek tersebut merupakan para pedagang makanan.
Penjaga Kios Segoro Amarto di Pasar Beringharjo, Miko mengatakan ketersediaan MinyaKita tergantung dari permintaan pedagang. Mekanismenya, apabila di kios stok mulai menipis, mereka bisa mengajukan dan akan disediakan oleh Bulog.
"Kayak hari ini itu kan baru turun ke Pasar Prawirotaman, karena pedagang sudah request dan Bulog sudah meng-acc terus disalurkan ke sana," ujarnya.
Kios Segoro Amarto, lanjutnya, juga menyediakan minyak merek Minyakita. Namun, jumlah ketersediaannya tidak sebanyak para pedagang. Sekitar 10 karton.
"Harga per liter di sini Rp 15.700 sementara saat ini HET-nya segitu," ucapnya. (Oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin