Permen identik dengan pengawet, perasa tambahan, dan pewarna buatan untuk menarik minat pembeli. Namun, hal tersebut dipatahkan oleh pemilik UMKM Midori Hejo yang menghadirkan permen berbahan alami tanpa tambahan zat kimia.
Pemilik produk permen Midori Hejo Ester Kurniarini mengungkapkan, usaha ini berawal dari kegagalan saat mencoba membuat tanghulu, camilan manis asal Tiongkok. Alih-alih berhasil, buah yang digunakan justru berair karena kondisi basah.
“Tapi saya belajar tentang adonan permennya, lalu saya coba olah lagi,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya yang berada di Bangunharjo, Sewon Kamis (16/4).
Dari proses tersebut, Nia sapaan akrabnya mulai bereksperimen hingga menemukan konsep permen berbasis bahan alami. “Akhirnya belajar dari internet bisa pakai buah kering, bukan buah basah, karena kalau buah basah memang tidak bisa,” jelasnya.
Produk ini mulai ditemukan pada 2022 setelah melalui serangkaian riset. Nama Midori Hejo pun dipilih dari dua bahasa, yakni Jepang dan Sunda, yang sama-sama berarti hijau. “Karena kami ingin semua produk natural dan ramah lingkungan,” katanya.
Lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Jogjakarta (Stipram) dan ASRD MSD Jogjakarta jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) keunikan permen Midori Hejo terletak pada tampilannya yang bening dengan isian buah, sehingga kerap disangka benda lain. "Bentuknya berbagai macam bunga," katanya.
Dalam proses produksi, buah yang digunakan bisa berupa buah kering maupun sari buah hasil perebusan. Teknik ini memungkinkan warna alami tetap muncul tanpa bahan tambahan. Varian rasa yang tersedia antara lain stroberi, mangga, nanas, dan murbai. Dari beberapa pilihan tersebut, mangga dan murbai menjadi favorit pasar.
Proses riset produk disebut tidak pernah berhenti. Pada tahap awal, ia menghabiskan waktu hingga tiga bulan hanya untuk menemukan resep dasar yang tepat. “Ganti-ganti jenis gula dan uji coba terus,” ujarnya.
Saat ini, wanita 41 tahun itu menggunakan gula pasir dan gula singkong sebagai bahan utama. Pemilihan gula singkong terinspirasi dari tren pembuat permen di luar negeri yang lebih memperhatikan aspek kesehatan. “Gula singkong lebih mudah dicerna dibanding gula jagung, dan bahannya juga lokal sehingga harganya lebih stabil,” terangnya.
Pembuatan permen ini dimulai dengan mencampurkan gula pasir dan gula singkong dengan sedikit air, lalu dipanaskan hingga mencapai suhu tinggi sekitar 145 derajat celcius. Pada tahap awal, adonan diaduk sampai larut, tetapi setelah mulai panas tidak boleh sering diaduk agar tidak terjadi kristalisasi.
Setelah suhu tercapai, bahan tambahan seperti buah kering atau sari buah dimasukkan untuk memberikan rasa dan warna alami. Adonan kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan didinginkan sebentar hingga mengeras, lalu segera dikemas agar tidak terkena udara yang dapat merusak kualitas permen.
Seluruh proses pembuatan dalam satu kali produksi memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam dan dapat menghasilkan kurang lebih 40 buah permen. "Bisa tahan tiga hari di suhu ruang, kalau di kulkas dua bulan," katanya.
Baca Juga: Hadapi Kemarau Ekstrem, Sleman Siapkan Asuransi Usaha Tani dan Subsidi Benih untuk Gagal Panen
Dalam sehari, Midori Hejo mampu memproduksi sekitar 200 permen. Penjualan dilakukan secara langsung di berbagai titik seperti Sunmor UGM, pameran, serta melalui platform Shopee dengan sistem stok siap kirim. “Pengiriman kami pakai ice gel, bisa tahan sampai lima hari di perjalanan,” katanya.
Strategi pemasaran yang diterapkan pun terbilang unik. Alih-alih mengandalkan iklan berbayar, ia memilih metode berbagi produk secara langsung. “Menurut kami itu marketing paling efektif,” ujarnya.
Ke depan, Midori Hejo berencana menambah variasi rasa serta mengembangkan kemasan menjadi produk hadiah seperti buket dan hampers. Ia juga memiliki cita-cita menghadirkan mesin penjual otomatis khusus produknya. “Jadi bisa seperti toko tanpa pegawai,” tuturnya. (cin/pra)
Editor : Heru Pratomo