GUNUNGKIDUL - Bisnis persewaan iPhone di Gunungkidul kian laris manis seiring meningkatnya kebutuhan dokumentasi dan konten digital.
Di balik kesuksesan itu, ternyata tak lepas dari cibiran di awal perintisan. Di tengah tingginya permintaan, pelaku usaha bahkan sempat dianggap “nyeleneh” hingga jadi bahan candaan, sebelum akhirnya ide tersebut justru berkembang menjadi peluang usaha menjanjikan.
Cemoohan itu pernah dirasakan pemilik persewaan Ras Kamera Riyan Andi Setiyawan, 26.
Baca Juga: Jean Paul van Gastel Akui Belum Aman dari Zona Degradasi di BRI Super League 2025/2026
Awalnya ia hanya mencoba peruntungan menyewakan iPhone pada 2022, usai pandemi Covid-19.
Saat itu, ia melihat banyak pelanggan sewa kamera ditempatnya kesulitan mengoperasikan perangkat.
“Pada 2018 saya merintis usaha persewaan kamera. Ya kendalanya begitu. Nah, saya coba tawarkan iPhone. Ternyata malah jadi tren dan sekarang jadi primadona di Gunungkidul,” ujarnya saat ditemui di tokonya di Jalan Gading Playen Padukuhan Nogosari Kalurahan Bandung Kapanewon Playen, Jumat (10/4/2026) malam.
Baca Juga: 24 Dokter Muda Mulai Bertugas di Magelang, Damar Ingatkan soal Tantangan Pelayanan hingga Fasilitas
Riyan sumringah mengenang awal merintis usahanya. Pada awal merintis sempat menjadi bahan candaan karena dianggap tidak lazim, mengingat perangkat tersebut identik sebagai barang pribadi.
“Teman-teman dulu sempat guyon, ‘kamu itu kalau bisa menyewakan sempak, pasti kamu sewakan’. Ya saya cuma ketawa saja,” kenangnya.
Namun, keyakinannya membawa peluang pasar dan berbuah hasil. Dari awal hanya dua unit, kini ia memiliki sekitar 40 unit iPhone berbagai seri, mulai dari XR hingga seri terbaru 17 Pro Max, tentu, lanjut Riysn, siap disewakan.
Menurutnya, jika dulu persewaan iPhone identik dengan gaya hidup atau sekadar “gaya-gayaan”.
Kini kebutuhan bergeser menjadi lebih fungsional. Banyak pelanggan menyewa untuk kepentingan dokumentasi acara, produksi konten, hingga kebutuhan profesional.
“Sekarang bukan sekadar gaya. Banyak event yang butuh fleksibilitas, kualitas video, dan kecepatan unggah. iPhone memang unggul di situ,” jelasnya.
Baca Juga: Kades Sambeng Menghilang sejak Desember 2025, Pelayanan Desa Tetap Berjalan
Permintaan tertinggi biasanya terjadi saat akhir pekan dan musim liburan. Bahkan, pada momen Lebaran kemarin, sebanyak 65 unit iPhone miliknya ludes tersewa dalam sehari.
Sementara di hari biasa, rata-rata mencapai minimal 15 unit per hari penyewaan. Tak hanya melayani kebutuhan lokal, Riyan juga pernah mendapat pesanan dalam jumlah besar dari klien luar negeri.
Pada 2025, ia menyewakan hingga 30 unit iPhone untuk kegiatan sebuah tim dari Singapura yang menggelar agenda di salah satu hotel di Gunungkidul.
“Mereka butuh untuk rekaman audio. Jadi iPhone dipakai untuk kebutuhan profesional,” ungkapnya.
Baca Juga: Pemakaian Listrik Dikurangi, Sebagian ASN Beralih Naik Sepeda saat Pemberlakuan WFH di Pemkab Bantul
Durasi penyewaan pun beragam, mulai dari hitungan jam hingga jangka panjang. Bahkan, ia pernah melayani penyewaan hingga satu tahun, sebelum akhirnya perangkat tersebut dibeli oleh penyewa.
Meski menguntungkan, bisnis ini juga memiliki risiko tinggi. Riyan mengaku pernah mengalami kasus iPhone yang digadaikan oleh penyewa. Salah satunya bahkan harus ditebus kembali dengan nilai mencapai Rp18 juta.
“Ada juga yang dijual seharga Rp 3 juta. Risiko usaha memang seperti itu,” terang dia.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia menerapkan sistem keamanan berlapis, seperti iCloud yang tidak di-logout serta kewajiban meninggalkan identitas diri bagi penyewa.
Kendati banyak pesaing, usahanya bisa bertahan karena dirinya menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pelanggan dengan layanan 24 jam dan perlindungan privasi.
“Alasan orang menyewa macam-macam. Saya tidak pernah membuka identitas pelanggan, meskipun untuk promosi. Itu komitmen kami,” tandasnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita