Industri Olahan Dongkrak Ekspor, DIY Catat Surplus Awal 2026 di Tengah Tekanan Global
Fahmi Fahriza• Sabtu, 11 April 2026 | 20:30 WIB
Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih. (AGUNG DWI PRAKOSO/RADAR JOGJA)JOGJA - Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi sepanjang awal 2026, kinerja ekspor DIY justru menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekspor yang konsisten tidak hanya menjaga laju ekonomi daerah, tetapi juga mempertegas peran sektor industri pengolahan sebagai tulang punggung utama.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY nilai ekspor pada Februari 2026 tercatat sebesar 51,47 juta dolar AS, tumbuh 8,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, ekspor Januari-Februari 2026 mencapai 98,41 juta dolar AS atau naik 8,36 persen secara tahunan.
Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih, menegaskan, bahwa kinerja ekspor masih ditopang cukup kuat oleh sektor industri pengolahan. "Industri pengolahan masih menjadi kontributor utama, hampir seluruh ekspor kita berasal dari sektor ini," ujarnya, Sabtu (11/4).
Ia menambahkan, sejumlah komoditas lainnya juga secara progresif mulai menunjukkan perbaikan kinerja. "Beberapa sektor pertanian naik, terutama dari ekspor buah-buahan, kopi, teh, dan rempah-rempah," kata Endang.
Surplus perdagangan DIY pada dua bulan pertama 2026 tercatat sebesar 69,69 juta dolar AS, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 57,44 juta dolar AS. "Kita bersyukur untuk DIY ini mengalami surplus yang cukup positif," ujarnya.
Di sisi lain, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Y Sri Susilo mengingatkan, bahwa capaian tersebut tetap harus dibaca dalam konteks global yang belum stabil.
"Secara umum kondisi 2026 ini tidak jauh berbeda dengan 2025, masih diwarnai ketidakpastian global, baik dari sisi geopolitik maupun kebijakan ekonomi negara besar," katanya.
Meski demikian, secara garis besar ia menilai struktur ekonomi DIY relatif lebih adaptif, apalagi jika dibandingkan banyak daerah lain.
"DIY punya keunggulan karena tidak bergantung pada tambang, tapi ditopang oleh pendidikan, pariwisata, dan sekarang ekspor yang mulai pulih," ujarnya.
Namun, Sri Susilo juga menyoroti potensi risiko dari struktur pasar ekspor yang masih terkonsentrasi. Data BPS menunjukkan Amerika Serikat menyerap 48,24 persen total ekspor DIY.
Dengan kondisi tersebut, ia menilai diversifikasi pasar menjadi kunci agar ketahanan ekonomi DIY tetap terjaga. "Kalau ketergantungan ke satu pasar terlalu besar, itu tentu berisiko. Begitu ada perubahan kebijakan atau perlambatan di negara itu, dampaknya bisa langsung terasa," tegasnya. (iza)