JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mencatat adanya inflasi selama bulan Maret. Pada periode bulan ramadan itu komoditas bensin daging ayam ras, dan emping mentah diketahui menjadi penyumbang inflasi terbesar.
Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno mengatakan, secara keseluruhan inflasi pada bulan Maret mencapai 0,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas penyumbang inflasi terbesar bensin dengan angka 0,06 persen. Kemudian disusul komoditas daging ayam ras yang menyumbang inflasi hingga 0,05 persen dan emping mentah dengan angka 0,03 persen.
Baca Juga: Banjir Diskon, Atraksi Budaya, hingga Lari Maraton Peringati Hari Jadi ke-1.120 Kota Magelang
Joko menyatakan, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar karena ada penyesuaian harga pada untuk kategori bahan bakar minyak Pertamax dan Pertamax Turbo. Pada awal Maret Pertamax naik menjadi Rp 12.300 dari sebelumnya Rp 11.800 per liter. Sementara Pertamax Turbo dari Rp 12.700 menjadi Rp 13.100 per liter.
Kemudian untuk komoditas daging ayam ras, menurutnya lumrah terjadi kenaikan harga karena meningkatnya kebutuhan saat momen hari raya Idul Fitri. Fenomena serupa juga terjadi pada komoditas emping mentah, pada momen lebaran itu kudapan berbahan dasar melinjo itu juga mengalami peningkatan permintaan.
“Saat momen lebaran, permintaan naik tajam sementara pasokan tetap, sehingga harga otomatis terkerek naik," imbuhnya,” ujar Joko saat ditemui di kantornya, Rabu (1/4/2026).
Baca Juga: Mantan Bupati Ikut Diperiksa, Kasus Korupsi Mini Zoo Kejari Purworejo Periksa 48 Saksi
Mantan Kepala BPS Gunungkidul itu menilai, situasi geopolitik global diprediksi juga diprediksi mempengaruhi inflasi di masa mendatang. Terkhusus pada harga bahan bakar minyak. Meskipun hingga pada bulan April ini belum terjadi kenaikan harga.
Joko menyatakan, bahwa hal tersebut dapat terjadi jika situasi perang di Timur Tengah berpengaruh terhadap pasokan minyak ke Indonesia. Kondisi tersebut juga kemungkinan tidak bisa dibendung di tingkat daerah karena sudah merupakan dampak dari situasi global.
“Bensin atau minyak dunia, itu faktor luar. Jika suplai bahan bakar terhambat akibat kondisi global dan harganya naik, tentu akan berdampak langsung pada inflasi kita," terangnya. (inu)
Editor : Heru Pratomo