Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jelang Ramadan 2026, Pengamat Ekonomi Menilai Masyarakat Tak Perlu Rem Konsumsi secara Berlebihan

Fahmi Fahriza • Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:39 WIB
Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo.
Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo.

 

JOGJA - Menjelang bulan suci Ramadan yang diperkirakan jatuh pada tanggal 18 atau 19 Februari mendatang, pola konsumsi masyarakat mulai menunjukkan peningkatan.

Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Y Sri Susilo, menilai lonjakan belanja ini merupakan motor penggerak ekonomi yang penting, meski masyarakat kini cenderung lebih cermat dalam mengatur anggaran.

Sri Susilo menegaskan, bahwa peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan merupakan siklus alami yang sangat membantu pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu terlalu menahan diri selama pengeluaran tetap dalam batas kemampuan.

"Kalau konsumsi rutin untuk menyambut Ramadan, lebaran dan kemarin Nataru, saya kira tidak perlu ditahan-tahan. Itu tradisi dan memang itu mampu menjadi salah satu motor penggerak ekonomi," ujar Sri Susilo, Sabtu (14/2/2026).

Meski mendorong konsumsi, Sri Susilo mencatat adanya fenomena masyarakat yang kini lebih selektif.

Data perbankan menunjukkan saldo tabungan mulai terserap untuk kebutuhan musiman, yang menandakan masyarakat menggunakan cadangan dana mereka secara terukur.

"Masyarakat kita sudah mulai menahan, sudah mulai juga mikir saving itu. Data dari perbankan, beberapa tabungan juga mulai tersedot. Intinya, tidak perlu berlebihan, secukupnya saja, tapi tidak perlu ditahan-tahan jika memang ada budgetnya," tambah Susilo.

Senada dengan pengamatan tersebut, sejumlah warga mulai menyiasati kenaikan harga kebutuhan pokok dengan belanja lebih awal.

Nurhayati, seorang ibu rumah tangga di kawasan Cokrodiningratan, mengaku sudah mulai menyicil kebutuhan pokok sejak pertengahan Februari ini agar beban finansial tidak menumpuk saat Ramadan tiba.

"Harus lebih pintar bagi uang. Saya sudah mulai stok beras dan minyak goreng dari sekarang, karena biasanya pas masuk puasa harga-harga naik lagi," ulasnya.

Siasat tersebut dilakukan salah satunya adalah untuk mengantisipasi keborosan yang mungkin terjadi selama bulan puasa mendatang.

"Kami tidak mau terlalu boros, yang penting kebutuhan berbuka dan sahur keluarga tercukupi," ungkap Nurhayati.

Ia juga menambahkan bahwa tradisi berbagi seperti takjil tetap akan dijalankan meski dengan penyesuaian anggaran.

"Tetap ingin berbagi ke masjid atau tetangga, tapi porsinya mungkin disesuaikan dengan kantong sekarang," imbuhnya.

Di sisi lain, Sri Susilo juga optimis bahwa masifnya aktivitas sosial, seperti penyediaan takjil di hampir seluruh masjid di DIY, akan memberikan dampak positif ekonomi bagi UMKM lokal.

"Luar biasa perputaran ekonominya. Masjid-masjid sekarang hampir semua menyediakan takjil selama 30 hari. Itu menggerakkan ekonomi akar rumput," tuturnya. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Ramadan 2026 #konsumsi #jelang ramadan 2026 #pola konsumsi masyarakat #pengamat ekonomi #masyarakat #UAJY