GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mencatat tingkat inflasi sepanjang 2025 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Desember 2025, inflasi year on year (y-on-y) tercatat sebesar 2,93 persen. Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan Desember 2024 yang hanya berada di angka 0,92 persen .
Kepala BPS Gunungkidul Agus Hartanto menjelaskan, inflasi tahunan tersebut ditunjukkan oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,84 pada Desember 2024 menjadi 108,94 pada Desember 2025.
Selain inflasi y-on-y, inflasi month to month (m-to-m) pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,74 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) juga berada di level 2,93 persen .
Baca Juga: Pemkab Kulon Progo Gencarkan Deklarasi Anti Judol dan Radikalisme
“Secara umum, inflasi Gunungkidul tahun 2025 memang lebih tinggi dibandingkan tahun 2024. Namun, masih dalam kategori terkendali,” ujar Agus saat ditemui di kantor BPS Gunungkidul pada Senin, (5/1/2026).
Ia menyebut, tekanan inflasi sepanjang 2025 terutamanya dipicu oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Dari sebelas kelompok yang dipantau, hampir semuanya mengalami inflasi, kecuali kelompok kesehatan yang justru mengalami deflasi.
Menurutnya kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan inflasi y-on-y sebesar 5,21 persen dan andil inflasi mencapai 1,64 persen .
Baca Juga: Polres Gunungkidul Catat Dinamika Penyelesaian Perkara, Sejumlah Polsek Capai di Atas 90 Persen
“Komoditas seperti beras, kelapa, cabai rawit, cabai merah, serta daging ayam ras masih mendominasi kenaikan harga di kelompok pangan,” jelasnya.
Selain pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi cukup tinggi, yakni sebesar 10,13 persen dengan andil 0,67 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor utama pendorong inflasi di kelompok ini.
Sementara itu, Statistisi Pertama BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta menambahkan, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 2,86 persen, transportasi 1,13 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,21 persen.
Baca Juga: Mengenal John Herdman, Pelatih Baru Skuad Garuda Eks Pelatih Timnas Kanada
“Di sisi lain, kelompok kesehatan mengalami deflasi y-on-y sebesar 0,27 persen, dipengaruhi oleh turunnya harga beberapa komoditas obat-obatan dan produk kesehatan,” ujarnya.
Jika dilihat secara bulanan, kata dia, inflasi Desember 2025 terutama dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, cabai merah, hingga bensin. Sebaliknya, beberapa komoditas seperti kelapa, kentang, dan ikan nila menahan laju inflasi karena mengalami penurunan harga.
Ia menegaskan, data inflasi ini menjadi bahan penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pengendalian harga, terutama pada kelompok pangan yang sangat memengaruhi daya beli masyarakat.
“Pengendalian inflasi ke depan perlu difokuskan pada stabilisasi harga kebutuhan pokok agar dampaknya terhadap masyarakat bisa ditekan,” pungkasnya. (bas)
Editor : Heru Pratomo