JOGJA - Program Warung Mrantasi (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi) diklaim sebagai salah satu program sukses pengendalian inflasi di Kota Jogja semakin diperluas. Saat ini, diketahui sudah tersedia 85 titik kios yang tersebar di sejumlah pasar tradisional.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani mengatakan, warung mrantasi juga menggandeng pedagang tradisional untuk menjual komoditas bahan pokok sesuai harga eceran tertinggi. Sehingga menjadi acuan bagi pedagang lain agar tidak menaikkan harga komoditas bahan pokok di luar kewajaran.
“Pedagang harus komitmen, barang tidak boleh dibawa pulang atau dijual di warung luar pasar, supaya menjaga ketersediaan dan harga,” ujar Ambar di sela peresmian warung mrantasi di Pasar Prawirotaman, Rabu (3/12).
Selain di pasar tradisional, mantan kepala dinas perpustakaan dan kearsipan itu mengaku warung mrantasi juga akan dikembangkan hingga tingkat kemantren. Sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan bahan pokok dengan harga murah.
Menurut Ambar, harga bahan pokok yang ditawarkan di warung mrantasi juga lebih rendah dibandingkan dengan harga pasaran. Sebab dengan upaya tersebut, bisa turut mengendalikan harga bahan pokok di luar warung mrantasi.
“Untuk beras medium misalnya, lebih murah Rp. 500 hingga Rp. 1.000,” jelasnya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menegaskan, warung mrantasi diharapkan tidak hanya dapat mengendalikan inflasi. Namun juga harus bisa mewujudkan kemandirian pangan daerah melalui potensi lokal.
Hasto menyebut, pasar tradisional sejatinya memang harus didominasi oleh komoditas yang disuplai oleh para petani lokal atau kerjasama antar daerah.
Misalnya dengan mengoptimalkan hasil panen komoditas pertanian dari kabupaten Sleman, Bantul, atau Kulon Progo.
“Harapan saya barang dagangan lokal terus bertambah terus. Kalau hari ini bisa produksi beras, minyak, dan gula, usahakan tiga-tiganya tidak impor,” tegasnya. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo