JOGJA - Perekonomian Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) pada triwulan III-2025 mencatat kinerja positif. Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ Herum Fajarwati menyampaikan, bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIJ atas dasar harga berlaku mencapai Rp51,97 triliun, dengan pertumbuhan tahunan (y-on-y) 5,40 persen, tertinggi di antara provinsi-provinsi di Pulau Jawa.
"Ekonomi DIJ tumbuh impresif sebesar 5,40 persen secara tahunan, lalu pertumbuhan kumulatif hingga triwulan III juga kuat di angka 5,34 persen," katanya, Sabtu (29/11).
Meski demikian, kinerja ekonomi DIJ tidak sepenuhnya tanpa tekanan. Secara kuartalan (q-to-q), pertumbuhan hanya 0,23 persen, cukup melambat dibanding triwulan sebelumnya.
Perlambatan ini dipicu oleh kontraksi sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar -6,43 persen, serta Jasa Lainnya -7,88 persen pascalibur lebaran.
Selanjutnya, di sisi pengeluaran, penurunan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) sebesar -1,79 persen dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) sebesar -4,87 persen ikut menekan laju pertumbuhan. Namun, Herum menegaskan bahwa sejumlah sektor masih menjadi penahan utama perlambatan.
"Sektor Konstruksi yang tumbuh 10,37 persen dan PMTB yang meningkat 8,02 persen berperan menjaga ekonomi DIJ tetap stabil," katanya.
Disampaikannya, struktur perekonomian DIJ pada triwulan III-2025 masih didominasi konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 60,92 persen, disusul Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 37,65 persen.
Sementara dari sisi lapangan usaha, penopang terbesar ekonomi DIJ berasal dari Industri Pengolahan (11,69 persen), Konstruksi (10,31 persen), serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (10,18 persen).
Di tengah capaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi, ahli mengingatkan bahwa ketidakpastian ekonomi tetap perlu diantisipasi. Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Departemen Manajemen FEB UGM I Wayan Nuka Lantara, menilai masyarakat perlu lebih cermat dalam mengelola pengeluaran dan menyiapkan dana cadangan.
"Kita tidak tahu kondisi perekonomian ke depan seperti apa, jadi idealnya harus memperkuat saving. Kurangi pembelian barang atau hiburan yang hanya memberi kesenangan sesaat," ujar Wayan.
Menurutnya, tantangan ekonomi ke depan, termasuk potensi PHK dan tekanan inflasi, menuntut rumah tangga memiliki kesiapan finansial.
"Penting untuk saving, tapi itu juga harus dialihkan ke aset yang return-nya lebih tinggi," katanya.
Ia merekomendasikan instrumen dengan risiko terukur seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI), reksadana, atau saham berfundamental kuat.
"Obligasi yang paling aman karena bunganya tetap. Saham juga bisa jadi alternatif, asalkan perusahaan jelas dan stabil," tambahnya.
Lebih lanjut, Wayan juga menekankan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat tidak terjebak investasi berisiko tinggi. Menurutnya, memulai investasi sejak dini akan memberi manfaat signifikan.
"Tidak ada kata terlambat. Satu-satunya cara melawan inflasi adalah memiliki aset yang tahan terhadap inflasi," tegasnya. (iza)
Editor : Heru Pratomo