Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Antisipasi supaya Tak Berdampak ke Daya Beli, Harga Pangan di Gunungkidul Mulai Naik Jelang Nataru

Yusuf Bastiar • Rabu, 26 November 2025 | 16:10 WIB
Pedagang Pasar Argosari Wonosari Dwi Riadi menyebut kenaikan harga ayam potong di pasaran tidak berdampak secara signifikan pada hasil penjualan. Sebab, menurutnya para pemb
Pedagang Pasar Argosari Wonosari Dwi Riadi menyebut kenaikan harga ayam potong di pasaran tidak berdampak secara signifikan pada hasil penjualan. Sebab, menurutnya para pemb

 

GUNUNGKIDUL - Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, sejumlah harga kebutuhan pokok di Kabupaten Gunungkidul mulai menunjukkan kenaikan. Berdasarkan pantauan harga Dinas Perdagangan Gunungkidul pada Senin, 24 November 2025, beberapa komoditas mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Hal tersebut, terjadi terutama di kelompok cabai, bawang, dan daging ayam. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Gunungkidul Ris Heriyani menyatakan, situasi ini sebagai fenomena rutin yang kerap terjadi menjelang akhir tahun.

 

“Tetap memerlukan langkah antisipatif agar tidak berdampak besar terhadap daya beli masyarakat,” ujarnya kepada wartawan pada Selasa, (25/11/2025).

 Baca Juga: Pupuk Subsidi Turun 20% untuk Wujudkan Ketahanan Swasembada Pangan

Ia menyebutkan harga cabai menjadi komoditas yang paling terdampak. Cabe besar merah tercatat naik menjadi Rp50.000 per kilogram dan cabe rawit merah mencapai Rp35.000 per kilogram, masing-masing mengalami kenaikan Rp5.000.

Kenaikan juga terjadi pada cabe rawit hijau yang kini berada di angka Rp32.000 per kilogram atau naik Rp6.000. Komoditas bumbu dapur lain seperti bawang putih Honan juga mengalami kenaikan seribu rupiah menjadi Rp30.000 per kilogram.

 

“Sementara itu, gula pasir curah naik sebesar Rp500 menjadi Rp16.500 per kilogram,” sambungnya.

 Baca Juga: Gadis di Bawah Umur Asal Bergas Dicabuli Oleh Trainer Gym, Pelaku Berhasil Ditangkap di Ambarawa.

Ris menjelaskan, selain bumbu dapur, kenaikan harga juga terlihat pada daging ayam yang kini menjadi Rp38.000 per kilogram.

Menurutnya, dinamika harga daging dan telur ayam merupakan pola musiman yang selalu muncul pada periode yang sama setiap tahunnya seiring meningkatnya permintaan. Kendati demikian, ia mengakui harga saat ini sudah berada di atas rata-rata normal.

 

Adapun telur ayam ras justru mengalami penurunan tipis sebesar Rp500 dan berada di angka Rp28.000 per kilogram.

Komoditas lainnya seperti beras premium, beras medium, minyak goreng premium maupun curah, minyak kita, tepung terigu, jagung pipilan, kacang tanah kupas, bawang bombay, garam halus, serta daging sapi tercatat berada pada kondisi stabil.

 

Melihat kondisi harga yang mulai merangkak naik, Disdag Gunungkidul menyiapkan sejumlah langkah stabilisasi melalui operasi pasar dan pasar murah yang akan digelar pada bulan Desember.

Ris mengaku, langkah tersebut diambil sebagai intervensi langsung terhadap harga. Untuk kegiatan operasi pasar selama Desember, pemerintah merencanakan penyaluran gula pasir dan minyak goreng dengan total kuota mencapai 10 ton.

 Baca Juga: Keuntungan Menanam Kelapa Genjah di Kulon Progo Diklaim Turunkan Risiko Kecelakan Penyadap Nira

Lokasi pelaksanaan direncanakan di Pasar Pantauan Argosari. Sementara itu, untuk skema pasar murah, Disdag akan menyediakan beras, gula pasir, minyak goreng, dan tepung dengan total 4 ton.

Lokasinya saat ini masih dalam tahap identifikasi dan akan diumumkan kemudian. Selain memberikan akses pangan terjangkau bagi masyarakat, program ini juga diharapkan mampu menahan tekanan inflasi daerah yang biasanya meningkat menjelang akhir tahun.

 

“Sejak Januari hingga November 2025, pihaknya telah menyalurkan 126,5 ton bahan kebutuhan pokok melalui kegiatan pasar murah,” tegasnya.

 Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat di Kaliurang, Cocok Buat yang Mau ke Jogja Tapi Bosan ke Malioboro

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul Kelik Yuniantoro menegaskan, program pasar murah merupakan salah satu strategi penting pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga.

Menurutnya, kegiatan ini menyasar wilayah padat penduduk serta daerah yang terdampak gejolak harga sehingga masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok di bawah harga pasar.

 

“Kami berharap pasar murah ini dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung pengendalian inflasi di tingkat daerah,” imbuhnya singkat. (bas)

Editor : Heru Pratomo
#kenaikan harga #nataru #daya beli masyarakat #Gunungkidul #kelik #Disdag #daging ayam #argosari #komoditas