SLEMAN - Perhatian Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa terkait simpanan pemerintah yang disimpan di bank umum juga terdeteksi di DIY. Data yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) simpanan dana pihak ketiga (DPK) milik pemerintah pada bank umum di DIY mencatatkan lonjakan pertumbuhan yang signifikan dalam tiga tahun terakhir.
"Berdasarkan data perbankan DIY, pertumbuhan DPK dari golongan nasabah pemerintah melonjak tajam menjadi 34,22 persen pada Oktober 2025, dibandingkan dengan periode Oktober 2022 yang justru mengalami kontraksi sebesar -3,34 persen," kata Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam temu media Jogja, Solo dan Semarang, Sabtu (15/11).
Peningkatan yang pesat ini membuat porsi DPK pemerintah naik sedikit dari 7,54 persen atau mencapai Rp 5,76 Triliun pada Oktober 2022 menjadi 7,66 atau Rp 6,71 Triliun pada Oktober 2025. Anggito berharap dalam dua bulan terakhir 2025 ini, anggaran tersebut bisa dibelanjakan untuk menggerakkan ekonomi.
"Bukan dinolkan tapi pindah ke rekening untuk belanja kebutuhan masyarakat," ungkapnya.
Secara keseluruhan, pertumbuhan DPK di DIY tumbuh sebesar 4,95 persen pada Oktober 2025. Anggito menambahkan, pertumbuhan DPK di DIY menunjukkan aktivitas bisnis yang ekspansif, tecermin dari pertumbuhan giro dan deposito yang meningkat dibanding tiga tahun lalu.
"Secara keseluruhan, komposisi produk dalam total DPK juga relatif stabil. Meski demikian, perlambatan tabungan (yang umumnya dimiliki perorangan) perlu menjadi concern,” pesannya.
Pertumbuhan ini terutama tecermin dari pertumbuhan produk giro dan deposito yang sustainable dan meningkat dibanding tiga tahun lalu. Anggito menjelaskan, pertumbuhan giro tercatat 11,35 persen pada Oktober 2025 sedang pertumbuhan deposito tercatat 6,20 persen pada Oktober 2025.
Sebaliknya, perlambatan terjadi pada produk tabungan, yang umumnya dimiliki oleh perorangan, yang hanya tumbuh 0,71 persen. "Secara komposisi, tabungan masih menjadi produk terbesar 59,21 persen atau Rp 51,85 Triliun, diikuti deposito 26,79 persen atau Rp 23,46 Triliun, dan giro 14 persen atau Rp 12,26 Triliun," ungkapnya.
Sedang untuk omposisi simpanan bank umum per tier di DIY dalam tiga tahun terakhir masih relatif sama. LPS mencatat ada kenaikan porsi pada tiering Rp 500 juta–Rp 2 miliar dan lebih dari Rp 5 miliar. "Sementara, simpanan kurang dari Rp100 juta justru sedikit menurun, meski masih yang terbesar," tuturnya.
LPS sendiri , tambah Anggito, bersama OJK, BI dan Kampus terus berperan aktif dalam memperluas basis masyarakat menabung. Beberapa program edukasi dan literasi terus dilanjutkan. Tahun 2026, LPS kembali akan berkolaborasi dengan lembaga lain dan perbankan untuk menyelenggarakan Financial Festival di Yogyakarta dan Makassar.
Editor : Heru Pratomo