JOGJA - Peran generasi muda dalam aspek investasi di DIY terus mengalami peningkatan. Hal itu mengindikasikan semakin banyak generasi muda yang melek finansial dan peduli pada masa depan keuangan mereka.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Eko Yunianto mengatakan, generasi muda di DIJ cukup aktif sebagai investor, khususnya pada sektor Pasar Modal.
Berdasarkan data kinerja sektor jasa keuangan yang dihimpun OJK DIY bulan Agustus tahun ini, secara umum kepemilikan dan transaksi saham di DIY tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 35,61 persen yaitu dari sebesar Rp 2,902 miliar di tahun 2024 menjadi Rp 3,938 miliar.
Ia juga menyampaikan data statistik Pasar Modal Indonesia yang dikeluarkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) September 2025, data demografi investor individual selama dua bulan terakhir yakni Agustus dan September 2025 secara nasional menunjukkan bahwa investor individual yang dominan adalah kelompok usia kurang dari 30 tahun. Pada Agustus 2025, data investor dengan usia tersebut sebesar 54,12 persen.
"Disusul kelompok investor dengan usia 31 sampai 40 tahun sebesar 24,89 persen, usia 41 sampai 50 tahun sebesar 12,31 persen, usia 51 sampai 60 tahun sebesar 5,74 persen dan sebesar 2,94 persen untuk investor dengan katagori usia lebih dari 60 tahun," bebernya.
Kemudian September 2025, data investor dengan usia kurang dari 30 tahun sebesar 54,20 persen, disusul kelompok investor dengan usia 31 sampai 40 tahun sebesar 24,85 persen, usia 41 sampai 50 tahun sebesar 12,31 persen, usia 51 sampai 60 tahun sebesar 5,72 persen dan 2,92 persen untuk investor dengan katagori usia lebih dari 60 tahun.
Berdasarkan tingkat pendidikan, persentase jumlah investor dari yang terbesar ke terkecil berturut-turut yaitu SMA, kelompok lainnya, kelompok S1 dan kelompok S2.
"Hal ini menunjukkan dominasi keterlibatan yang kuat dari kelompok usia muda sebagai investor di sektor Pasar Modal," tandasnya.
Jumlah investor pasar modal di Indonesia tahun ini juga terjadi peningkatan sebesar 58,4 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan itu, menurutnya, menunjukkan semakin kuatnya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi, terutama generasi muda di bawah usia 30 tahun yang kini semakin aktif dan percaya diri dalam berinvestasi.
Dari sektor investasi emas, lanjutnya, menjadi salah satu produk investasi yang banyak diminati generasi muda melalui tabungan emas. Jenis investasi itu saat ini telah menjadi produk lembaga keuangan, yang telah diberikan izin usaha bullion yaitu PT BSI dan PT Pegadaian.
"Data yang kami peroleh dari PT Pegadaian Area Jogjakarta 9 November 2025, menunjukkan data jumlah nasabah tabungan emas terbanyak berdasarkan demografi (usia). Yaitu nasabah dengan usia 21 sampai 35 tahun," ucapnya.
Menurutnya, instrumen investasi yang paling diminati anak muda adalah Reksadana. Sebab, modal awal yang dikeluarkan relatif kecil dan aksesnya yang mudah banyak tersedia platform investasi online. Selanjutnya, instrumen saham juga popular di kalangan anak muda, terlebih dengan aplikasi daring yang memberikan kemudahan bertransasksi.
"Kalau investasi emas melalui emas digital karena keunggulannya yakni nilainya yang cenderung naik dalam jangka panjang, sehingga dapat melindungi dari inflasi," jelasnya.
Dalam investasi emas, kini juga banyak produk atau layanan tabungan emas ataupun cicil emas menggunakan aplikasi yang ditawarkan lembaga jasa keuangan tertentu yang telah mendapat izin Bullion. Itu semakin memudahkan konsumen berinvestasi dalam bentuk emas, dengan jumlah dana untuk investasi yang sangat terjangkau.
OJK DIY juga telah menyelenggarakan berbagai program untuk menggaet lebih banyak generasi muda agar melek secara finansial. Mulai dari OJK Goes to School/Campus, aliansi strategis dan kolaborasi dengan berbagai pihak, pengembangan duta literasi keuangan melalui program Training of Trainers (ToT), perlombaan dan program edukasi lainnya.
"Generasi muda yang melek finansial memiliki keuntungan signifikan dibandingkan dengan mereka yang tidak peka terhadap finansial. Terutama dalam hal stabilitas dan kemandirian ekonomi jangka panjang," jelasnya.
Selain itu, mereka juga akan lebih bijaksana dalam pengambilan keputusan terkait kebutuhan dan kondisi keuangan mereka. Stabilitas keuangan mereka juga akan stabil dengan perencanaan yang lebih baik. Kebijakan dan layanan yang dikeluarkan OJK juga mendorong generasi muda mampu mengelola keuangan mereka melalui platform investasi digital dengan modal terjangkau, akses dan persyaratan mudah.
"Literasi keuangan sangat penting bagi generasi muda, dan merupakan hak yang mendasar bagi setiap orang dan membekali generasi muda khususnya untuk membuat keputusan finansial yang bijak, mengelola uang secara efektif, dan merencanakan masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Namun, generasi muda juga menghadapi tantangan dalam mengelola keuangannya. Khususnya mengubah kebiasaan agar gemar menabung dan faktor kondisi ekonomi sosial.
Tren FOMO (Fear Of Missing Out), FOPO (Fear of People Oponion), YOLO (You Only Lives Ones) yakni kecenderungan untuk membeli barang berdasarkan keinginan (merek, tren, eksistensi) daripada kebutuhan, sering dipicu oleh pengaruh media sosial dan kemudahan akses belanja daring menjadikan gaya hidup konsumtif.
"Kemudian literasi keuangan yang rendah, ketergantungan pada utang, tidak disiplin mengelola keuangan, tidak memiliki tujuan jangka panjang dan faktor lain, itu merupakan tantangan bagi generasi muda," paparnya. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun