Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cara Anak-Anak  Muda Amankan  Aset di Tengah Inflasi; Daniel Main Saham dan Invetasi GORO, Putri Pilih Emas Digital

Delima Purnamasari • Sabtu, 15 November 2025 | 04:18 WIB

 

 

MELEK FINANSIAL DIGITAL: Anak muda generasi Z mengamati grafik pergerakan harga saham menggunakan ponselnya, kemarin (14/11).
MELEK FINANSIAL DIGITAL: Anak muda generasi Z mengamati grafik pergerakan harga saham menggunakan ponselnya, kemarin (14/11).

SLEMAN - Investasi kini menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang tengah digandrungi anak muda. Terlebih, semakin banyak platform digital yang hadir menawarkan berbagai keuntungan. Kegiatan investasi jadi bisa dilakukan dengan mudah dan cepat.

Salah satu anak muda yang mengikuti tren investasi ini adalah Daniel Kalis Jati Mukti. Dia mengaku kali pertama mencoba investasi saat pandemi Covid-19. Alasannya sederhana, sekadar untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan produktif. Saat itu dia mempelajari dunia investasi dari YouTube.

"Aku belajar dan ternyata tahu kalau investasi ada banyak jenisnya. Enggak cuma saham dan emas," terangnya saat dihubungi Radar Jogja dihubungi, Jumat (14/11).

Saat itu Daniel berpikir, lebih baik tabungannya digunakan untuk investasi. Daripada hanya disimpan di bank dan berkurang karena terpotong biaya administrasi.

Salah satu jenis investasi yang awal-awal dia coba adalah saham. Tetapi karena terlalu berisiko, akhirnya beralih ke Reksadana. Baginya, platform ini minim risiko dan timbal baliknya lumayan besar. Sekitar tujuh hingga delapan persen per tahun.

"Saat ini aku pakai Reksadana obligasi. Aku tipe orang yang pilih main aman. Sejak aku pakai sejak 2021 memang lumayan untuk melawan inflasi," katanya.

Beberapa bulan ke belakang, Daniel juga mengaku tengah mencoba investasi ke GORO. Platform investasi digital bebasis properti dengan modal terjangkau. Dimulai dengan modal sebesar Rp 10 ribu saja. Sementara keuntungan yang didapat mencapai 10 hingga 12 persen per tahun.

"Ibaratnya urun daya buat pengembangan vila. Jadi vila sudah jadi dan beroperasi, kalau mau ngembangin butuh dana tambahan. Semua bisa jadi investornya," katanya.

Menurutnya, hal terpenting saat akan berinvestasi adalah memahami tujuan dan platform investasi itu sendiri. Termasuk memastikan bahwa platform yang digunakan legal dan tersertifikasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dia bercerita memiliki pengalaman tertipu sebuah platform investasi dan mesti kehilangan uangnya. "Kalau mau ngamanin aset, bisa ke emas atau Reksadana. Kalau mau uang cepat, bisa ke saham atau Bitcoin," katanya.

Daniel mengaku selalu mengusahakan untuk bisa investasi tiap bulan, meski jumlahnya tidak tentu. Disinggung soal tujuannya investasi, ia menyebut uang yang dihasilkan digunakan untuk jangka panjang. Bisa untuk biaya nikah atau liburan.

Hal senada diungkapkan Putri Atmawidjaya yang memilih investasi emas. Dia mengaku setiap kali mendapatkan gaji hampir selalu mengalokasikan uang untuk membeli emas.

Baginya, investasi jenis ini tidak mungkin rugi, apalagi untuk penjualannya juga mudah. "Aku daripada hedon ngeluarin jutaan untuk beli baju sebagainya, mending buat beli emas," katanya.

Baca Juga: Trader Kripto Wajib Tahu! 5 Cara Trading Futures Secara Aman untuk Pemula agar Terhindar dari Risiko

Putri mengaku memiliki emas membuatnya lebih tenang apabila ada kebutuhan mendesak. Termasuk untuk kebutuhan jangka panjang, seperti biaya nikah atau mencicil rumah.

Dia mengaku pernah mencoba investasi emas secara digital. Menurutnya, lebih praktis dan cepat, apalagi jumlah pembeliannya bisa disesuaikan dengan ketersediaan dana.

Hanya saja untuk saat ini dia lebih nyaman membeli emas secara fisik. "Dulu aku beli emas Antam satu gram Rp 900 ribu, sekarang sudah Rp 2 juta. Kalau selisih beli dan jualnya lama, memang marginnya lumayan," terangnya. (del/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Stockbit #investasi #OJK #Otoritas Jasa Keuangan #reksadana #Gen Z #saham