JOGJA – Diskusi antara Komisi V DPR RI Fraksi PDIP, asosiasi driver ojek online, dan beberapa aplikator nasional, termasuk JogjaKita, berlangsung pada Senin, 27 Oktober 2025, dengan fokus membahas arah industri transportasi digital di Indonesia. Forum ini menyoroti tantangan efisiensi biaya, kesejahteraan mitra driver, serta model bisnis berkelanjutan bagi aplikator lokal.
Dalam kesempatan tersebut, JogjaKita memperkenalkan diri sebagai aplikator ojek lokal asal Yogyakarta yang telah beroperasi selama lima tahun. Berbeda dari banyak startup sejenis, JogjaKita telah mencapai profit operasional, hasil dari strategi bisnis yang cermat dan efisien.
JogjaKita menerapkan prinsip efisiensi di seluruh lini, mulai dari pengelolaan SDM hingga strategi pemasaran yang minim promosi besar-besaran. Di sisi teknologi, perusahaan mengembangkan sistem hybrid maps yang memadukan Open Source Map (OSM) dan Google Maps. Pendekatan ini menekan biaya penggunaan API berbayar Google, membuat JogjaKita lebih mandiri, terutama pada tahap awal pengembangan.
Selain efisiensi, JogjaKita menonjol karena keberpihakan pada fairness untuk driver. Sistem jarak dan tarif menggunakan distance matrix berbasis jarak aspal nyata, bukan estimasi algoritmik. Artinya, jarak dan biaya perjalanan dihitung dari rute aktual di lapangan, bukan perkiraan yang sering merugikan pengemudi. Pendekatan ini mendapat apresiasi dari asosiasi driver karena dianggap transparan dan adil.
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah anggota DPR dan peserta diskusi mempertanyakan alasan JogjaKita belum melakukan ekspansi nasional seperti kompetitornya. Mirza Alief Syahrial, Direktur Utama JogjaKita, menjelaskan fokus perusahaan saat ini adalah memastikan model bisnis sehat sebelum memperluas jangkauan.
“Kami ingin operasional yang sudah profit di Jogja bisa direplikasi di Jawa Timur dulu, baru kemudian ekspansi ke wilayah lain, termasuk Jabodetabek yang tentunya membutuhkan biaya lebih besar dan menghadapi persaingan ketat,” ujar Mirza.
Pendekatan ini mencerminkan filosofi JogjaKita yang menekankan keberlanjutan bisnis dibanding kecepatan ekspansi. Saat ini, perusahaan tengah melakukan uji coba operasional di Jawa Timur melalui brand ACI (Aku Cinta Indonesia) untuk memastikan efisiensi sistem, performa teknologi, dan keseimbangan ekosistem driver-merchant sebelum memasuki pasar lebih padat.
Baca Juga: Serangan Israel di Gaza Tewaskan 60 Orang, Gencatan Senjata Terancam Gagal
Diskusi ditutup dengan kesepakatan bahwa biaya operasional dan biaya teknologi harus dikelola efisien, agar perusahaan tetap sehat tanpa menekan pendapatan driver secara berlebihan. JogjaKita saat ini menerapkan potongan rata-rata 8,43 persen, dengan target penurunan hingga 6 persen seiring pertumbuhan basis pengguna.
Komisi V DPR RI mengapresiasi pendekatan JogjaKita yang dianggap model ideal bagi penguatan ekosistem transportasi digital nasional, terutama dalam konteks kemandirian teknologi, efisiensi bisnis, dan kesejahteraan pelaku lokal. Diskusi ini menegaskan bahwa masa depan industri ojek online Indonesia tidak hanya bergantung pada investasi besar, tetapi juga pada kemampuan membangun sistem adil, efisien, dan mandiri.
Perwakilan JogjaKita dalam diskusi ini antara lain Komisaris Gembong Prakoso, Direktur Mirza Alief, dan Direktur Suroto. Sementara anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDIP yang hadir antara lain Mohamad Hervianto, Muklis Basri, Adian Napitupulu, Sofwan Dedy Ardyanto, Edi Purwanto, dan Haryanto.
Editor : Heru Pratomo