JOGJA - Kawasan bersejarah Kotagede telah lama dikenal sebagai sentra kerajinan perak. Namun di tengah berkembangnya zaman, industri perak mulai meredup. Beberapa masih bertahan, salah satunya Umi Nurhasanah pemilik usaha kerajinan perak Umi Silver.
Logam mulia seperti perak memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari manusia. Kilaunya kerap menjadi penghias bagian tubuh. Bahkan tidak jarang menjadi simbol status sosial.
Namun di balik kilaunya, sentra pengrajin perak Kotagede mulai semakin meredup. Bahkan tidak sedikit yang tumbang karena krisis regenerasi dan mahalnya bahan baku. Namun Umi memilih bertahan.
Dia mengatakan, bahwa industri perak sejatinya memiliki potensi yang cukup baik. Meskipun diakui, permintaannya tidak sebagus seperti dua dekade lalu.
Kala itu dirinya bisa menghabiskan bahan baku perak seberat 15 kilogram per bulan. Namun kini hanya 6-7 kilogram per bulan.
Umi menyebut, tingginya harga bahan baku perak memang menjadi salah satu penyebab pengrajin perak sulit bertahan. Bayangkan saja, untuk saat ini harga satu kilogram bahan baku perak mencapai Rp 30 juta.
“Harga barang jadinya pun jadi ikut mahal, cincin yang dulunya itu di toko itu Rp 150.000 sekarang bisa Rp 500.000,” ujar Umi menggambarkan bagaimana drastisnya kenaikan harga perak.
Harga bahan baku yang sulit dijangkau pelaku usaha perak rumahan. Sehingga menjadi salah satu faktor banyaknya pelaku usaha kecil dan besar yang gulung tikar. Kondisi itu meredupkan Kotagede sebagai sentra kerajinan perak.
Selain berhadapan dengan harga bahan baku perak yang tinggi. Umi mengaku, sentra kerajinan perak Kotagede kini juga tengah melawan krisis regenerasi pengrajin. Lantaran diketahui banyak anak muda yang enggan menekuni profesi tersebut.
Umi menyebut, kerajinan perak memang memerlukan ketelitian dan ketekunan tinggi. Namun minat generasi muda untuk mendalaminya sangat rendah. Bahkan pengrajin muda di Kotagede kini hanya sekitar 35 persen dari sekitar 200-an pengrajin.
Permasalahan tersebut tidak muncul tiba-tiba. Sebab industri perak Kotagede telah melalui serangkaian badai. Mulai dari krisis moneter tahun 1998 yang menyebabkan banyak pengusaha bangkrut. Serta pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu.
Umi menyebut, situasi pandemi membuat pesanan perak anjlok drastis. Sehingga banyak tenaga kerja muda yang terpaksa mencari pekerjaan lain.
Meskipun pascapandemi pesanan kembali membludak. Banyak tenaga kerja muda sudah nyaman dengan profesi baru. Sehingga sulit ditarik kembali ke bengkel perak.
Meskipun dihadapkan pada tantangan harga bahan baku yang tidak menentu dan kesulitan merekrut tenaga kerja muda. Umi dan beberapa pengrajin perak memiliki komitmen untuk tetap bertahan.
Bahkan para pengrajin pun mulai terbuka membuka pelatihan bagi anak-anak muda yang ingin menekuni kerajinan perak. Sebab predikat Kotagede sebagai sentra kerajinan perak hanya bisa bertahan lewat regenerasi.
“Kami terus mencoba untuk mengajari anak-anak muda agar bisa jadi generasi penerus,” tandas Umi. (inu)
Editor : Herpri Kartun