Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Marak Fenomena Rojali, Dosen UMY Sebut Potret Perubahan Pola Konsumsi di Tengah Gempuran E-commerce

Fahmi Fahriza • Minggu, 10 Agustus 2025 | 02:00 WIB
DAYA TARIK: Suasana salah satu pusat perbelanjaan di Sleman, Minggu (29/12). Pusat perbelanjaan atau mal menjadi alternatif bagi sebagian masyarakat untuk berlibur karena dipengaruhi faktor cuaca.
DAYA TARIK: Suasana salah satu pusat perbelanjaan di Sleman, Minggu (29/12). Pusat perbelanjaan atau mal menjadi alternatif bagi sebagian masyarakat untuk berlibur karena dipengaruhi faktor cuaca.

JOGJA - Fenomena "Rojali" atau rombongan jarang beli tengah ramai diperbincangkan di media sosial dan ruang diskusi publik. Istilah ini merujuk pada kebiasaan sekelompok orang yang datang ke pusat perbelanjaan, melihat-lihat produk, namun jarang melakukan pembelian.

Meski istilah ini baru viral, Dosen Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr Miftakhul Khasanah menyebut, perilaku serupa sudah lama terjadi. "Dari dulu orang jalan-jalan ke mal itu biasa. Mereka datang bukan hanya untuk belanja, tetapi juga rekreasi," ujarnya Sabtu (9/8).

 

Baca Juga: Inilah Sisi Lain dan Keunikan DIY, Pembagian Wilayah Administratif Istimewa

Menurut Miftakhul, istilah Rojali kemungkinan muncul dari keresahan para pelaku usaha ritel, terutama saat penjualan menurun. Kehadiran pengunjung yang hanya melihat tanpa membeli dianggap tidak menguntungkan.

Fenomena ini erat kaitannya dengan perubahan pola konsumsi masyarakat di era digital. Jika dulu konsumen cenderung langsung membeli produk di toko, kini perilaku tersebut bergeser karena kehadiran e-commerce.

"Banyak konsumen membandingkan harga, lalu membeli secara online," jelasnya.

Meski begitu, Miftakhul menilai fenomena Rojali belum cukup menjadi indikator pasti pelemahan daya beli. Penilaian akurat memerlukan kajian berbasis data, seperti survei konsumen Bank Indonesia atau survei penjualan eceran.

Baca Juga: PSIM Curi Poin Penuh di Surabaya, Yusaku Yamadera Tampil Jadi Tembok Kokoh dan Sabet Man of The Match 


"Kalau hanya melihat fenomena Rojali, itu tidak cukup. Tapi ini bisa jadi sinyal awal penurunan daya beli di beberapa wilayah," tambahnya.

Dampaknya terhadap sektor ritel offline tetap terasa. Konsumen yang sekadar melihat-lihat tanpa bertransaksi memengaruhi performa pertokoan, khususnya di pusat perbelanjaan. Hal ini menjadi tantangan bagi ritel fisik untuk berinovasi dan menyesuaikan diri dengan preferensi konsumen yang berubah.

"Pelaku UMKM perlu menjangkau pasar online. Namun banyak yang belum siap, terutama yang berusia di atas 50 tahun, belum melek digital," paparnya.

Ia mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan, untuk lebih aktif memberikan pelatihan digital marketing kepada para pedagang.

Baca Juga: Lagu Indonesia Kena Royalti Saat Diputar Acara Komersial, Hoak!

Miftakhul menegaskan, fenomena Rojali mencerminkan transformasi sosial-ekonomi yang sedang berlangsung. Dunia usaha, khususnya UMKM, dituntut segera beradaptasi atau bersiap menghadapi tekanan lebih besar.

"Pemerintah perlu hadir sebagai fasilitator agar digitalisasi menjadi peluang, bukan ancaman bagi pelaku ekonomi kecil dan menengah," ungkapnya.

Fenomena ini juga dirasakan oleh salah satu mahasiswi perantau di Jogja, Diana Safira. Perempuan asal Rembang tersebut mengaku jarang membeli barang langsung di mal. Ia lebih sering datang untuk menonton film, sekadar cuci mata, atau membandingkan harga sebelum membeli secara online.

Baca Juga: Persib Bandung vs Semen Padang, Marc Klok Tegaskan Pangeran Biru Harus Raih Kemenangan di Kandang: Ini Adalah Target

"Kalau beli di marketplace biasanya lebih murah, kadang bisa selisih sampai puluhan ribu. Jadi saya lihat-lihat dulu di mal, lalu beli online," ujarnya.

Di satu sisi, ia juga menilai bahwa banyaknya variasi pilihan kegiatan di mal membuatnya tidak memiliki keharusan juga untuk berbelanja. Dari beberapa kunjungan terakhirnya ke mal, Diana mengaku bahwa tujuannya lebih banyak untuk cuci mata dan menonton film.

"Habis itu paling makan saja. Kalau beli barang atau produk pakai di mal jarang sekali," ungkapnya. (iza/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#belanja #Universitas Muhammadiyah Yogyakarta #toko offline #dosen #mal #offline #e-commerce #rojali #konsumsi #konsumen #Hiburan #fenomena #UMY #POLA #media sosial #Online #penjualan #kementerian perdagangan #Rombongan Jarang Beli #Ekonomi