Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inflasi Gunungkidul Juli 2025 Capai 2,66 Persen: Makanan dan Perawatan Pribadi Jadi Pendorong Utama

Yusuf Bastiar • Minggu, 3 Agustus 2025 | 22:58 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mencatat tingkat inflasi year-on-year (y-on-y).
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mencatat tingkat inflasi year-on-year (y-on-y).


GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mencatat tingkat inflasi year-on-year (y-on-y) pada Juli 2025 sebesar 2,66 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai angka 107,75.

Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi tahunan pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 2,08 persen.

Kepala BPS Gunungkidul, Joko Prayitno, menyebutkan bahwa inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang merata di seluruh kelompok pengeluaran.


"Seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, yang paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,29 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,32 persen," jelas Joko dalam saat ditemui di kantor BPS Gunungkidul pada Jumat, (1/8/2025).


Selain inflasi tahunan, Joko juga memaparkan bahwa secara kumulatif sejak Januari hingga Juli 2025 (year-to-date/y-to-d), inflasi Gunungkidul mencapai 1,80 persen.

Angka ini jauh lebih tinggi dibanding y-to-d Juli 2024 yang hanya 0,08 persen.

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Gunungkidul mencatatkan deflasi sebesar 0,05 persen pada Juli 2025.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 1,35 persen terhadap total inflasi y-on-y.

Inflasi tertinggi dalam kelompok ini berasal dari sub kelompok minuman tidak beralkohol yang mencapai 14,53 persen.

Komoditas seperti beras, kopi bubuk, kelapa, dan tomat menjadi penyebab utama kenaikan harga di sektor ini.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan sumbangan signifikan sebesar 0,60 persen terhadap inflasi y-on-y.

Komoditas seperti pengharum cucian, bedak, hingga upah asisten rumah tangga disebut menjadi pendorong utama inflasi di kelompok ini.

Kelompok pengeluaran lain yang turut memberi andil antara lain pakaian dan alas kaki 0,14%, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,17%, kesehatan 0,06%, transportasi 0,08%, pendidikan 0,03%, restoran dan penyedia makanan 0,09%.


“Meskipun tidak semua kelompok menunjukkan lonjakan besar, akumulasi dari seluruh kelompok inilah yang mendorong inflasi ke angka 2,66 persen secara tahunan," ujar Joko.

Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi y-on-y antara lain: emas perhiasan, beras, kopi bubuk, kelapa, sigaret kretek mesin (SKM), bawang merah, sigaret kretek tangan (SKT), minyak goreng, tempe, dan kue basah.

Sementara itu, komoditas yang menahan laju inflasi (deflasi) antara lain: daging ayam ras, cabai merah, kangkung, buncis, daun bawang, bawang putih, bensin, wortel, hingga kacang panjang.

Secara bulanan, inflasi dipicu oleh naiknya harga tomat, bawang merah, cabai rawit, beras, dan emas perhiasan. Namun deflasi m-to-m ditahan oleh penurunan harga kacang panjang, buncis, kelapa, dan bayam.


Menurut Joko, perkembangan harga komoditas di pasar tradisional dan modern perlu terus dimonitor secara intensif, terutama menjelang akhir tahun yang biasanya mengalami lonjakan permintaan.

Dengan tren inflasi yang masih dalam batas wajar namun meningkat dibanding tahun lalu, BPS Gunungkidul mengimbau masyarakat tetap bijak dalam konsumsi dan berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan pasokan dan distribusi kebutuhan pokok.

“Kita harap seluruh stakeholder, termasuk pemerintah daerah, memperkuat pengawasan dan pengendalian harga komoditas, terutama yang sensitif seperti pangan dan energi,” tegasnya. (cr1)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#makanan #inflasi tahunan #bps #Gunungkidul #Inflasi Gunungkidul Juli 2025 #inflasi #Perawatan Pribadi #BPS Gunungkidul