BANTUL - Musim layangan kembali tiba. Momen musiman ini tidak hanya dinanti anak-anak. Melainkan juga para penjual layang-layang. Salah satunya Sunardi.
”Saat ramai-ramainya bisa sampai 15 layangan yang terjual,” jelasnya saat ditemui di tokonya, Minggu (20/7).
Kondisi ini sangat berbeda dibanding hari-hari biasa. Pria berusia 48 tahun ini menyebut, hanya bisa menjual satu hingga dua layang-layang tiap hari.
”Kadang malah nggak ada yang laku,” tuturnya.
Puncak penjualan, pemilik toko Podokarepe ini menceritakan, terjadi dua minggu lalu hingga sekarang. Mayoritas pembelinya anak-anak usia SD hingga SMP. Biasanya, mereka datang membeli saat sore hari.
Karena itu, Sunardi rutin menambah stok dagangannya. Ada beberapa karakter layangan yang dijualnya. Mulai ular, superhero, hingga pocong. Namun, jenis yang paling laris adalah berbentuk ular.
Harga yang ditawarkan bervariasi. Mulai Rp 2.500 hingga Rp 150 ribu. Harga tergantung ukuran dan asal usul layangan. Ukuran terbesar mencapai satu meter.
”Yang paling mahal itu dari Bali, bisa sampai Rp 150 ribu, karena mahal ongkirnya,” tuturnya.
Ya, Sunardi tidak membuat layangan sendiri. Dia membeli dari berbagai daerah. Seperti Bali, Tulungagung, dan beberapa daerah di Jawa Timur.
”Meskipun bisa bikin, belum tentu bisa terbang,” kelakar pemilik toko yang terletak di Mandingan, Kapanewon Imogiri ini.
Di luar musim, kata Sunardi, stok layangan yang tersisa hanya disimpan. Sebab, peminatnya sepi. Karena itu pula, Sunardi juga menjual berbagai jenis dagangan. Seperti sembako.
”Kalau lagi musim tanaman, saya jual tanaman juga. Memanfaatkan momen saja untuk mencari rezeki tambahan,” jelasnya. (cr2/zam)
Editor : Iwa Ikhwanudin