JOGJA - Sebanyak 78 pelaku usaha dari berbagai sektor diberikan fasilitasi pertemuan dengan 32 investor dalam gelaran Meet The Investors (MTI) #2 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM).
Target dari even yang digelar 17-18 Mei ini tak hanya tempat bertemu, tetapi juga bisa peluang membuka kerja sama konkret dengan investor.
Ketua Panitia MTI #2 Rizky Pratama mengatakan, pada dasarnya pertemuan lanjutan menjadi target setelah adanya even yang diprakarsai oleh Asosiasi Pengusaha Kreatif Jaya (APKJ) itu.
Baca Juga: Polisi Bubarkan Balap Liar di Magelang, Empat Sepeda Motor Ditilang
"MTI hanya menjadi wadah awal untuk membangun kepercayaan," katanya, Minggu (18/5/2025).
Salah satu goals yang diinginkan APKJ selaku penyelenggara adalah, MTI ini diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan ekosistem bisnis di Jogjakarta.
"Semoga ini juga memperkuat jejaring pengusaha, serta membuka akses pendanaan untuk akselerasi usaha," ujarnya.
Baca Juga: Jelang Idul Adha, 27 Kasus Antraks Ditemukan: DPKH Minta Hewan Kurban Harus Dilengkapi SKKH
Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian yang telah dimulai sejak Februari 2025.
Tujuannya, mempertemukan pelaku usaha dengan investor potensial, termasuk dari Jepang, Australia, Singapura, dan Malaysia
Dari 186 bisnis yang mendaftar, setelah dilakukan kurasi menjadi 78 yang memiliki potensi kuat dari segi revenue growth, impact, dan readiness to invest yang turut menjadi peserta MTI.
Peserta yang terlibat mencakup start-up teknologi, usaha kuliner, layanan jasa, hingga model bisnis berbasis kampus, termasuk mahasiswa UGM yang telah mendapat dukungan inkubator bisnis.
“Ini menjadi ruang kolaborasi antara pengusaha dan pemodal dari dalam dan luar negeri,” tambahnya.
Salah satu investor yang hadir Peter Shearer selaku Founder & CEO Wahyoo menilai, sektor kuliner di Yogyakarta memiliki prospek cerah.
Menurutnya, daya beli dan preferensi masyarakat terhadap produk premium sudah menunjukkan pertumbuhan positif.
"Saya cukup terkejut melihat banyak produk kuliner yang bermain di kelas premium dengan harga di atas Rp 20 ribu, ternyata diterima pasar dengan baik. Ini peluang yang menarik," ujarnya.
Di sisi pelaku usaha, Yudha Pangestu yang menjalankan bisnis penjualan sayuran segar mengaku mendapatkan banyak wawasan dari pertemuan langsung dengan para investor.
"Banyak masukan yang bisa saya aplikasikan langsung, termasuk dorongan untuk mengintegrasikan teknologi lewat aplikasi atau website guna memperluas pasar," ungkapnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita