KEBUMEN – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemkab Kebumen PT Lukulo Farma Perseroda segera bertransformasi menjadi perusahaan besar farmasi (PBF). Langkah ini diambil Pemkab Kebumen sebagai upaya memperluas cakupan dan jangkauan di sektor riil bidang farmasi.
Plt Direktur PT Lukulo Farma Perseroda Kebumen Frans Haidar menyatakan, konsep penerapan PBF ini menjadi bagian penguatan jangka panjang untuk memacu ekspansi bisnis farmasi.
Rencana strategis ini juga sebagai daya tawar perusahaan di kancah regional hingga nasional. “Pada saatnya nanti kalau sudah menjadi PBF, kami akan buka e-katalog nasional sehingga dapat mengikuti kebutuhan,” ujar Frans, Jumat (9/5).
Saat ini Apotek Lukulo telah memasuki usia 55 tahun. Apotek tersebut menjadi satu-satunya badan usaha farmasi milik Pemkab Kebumen dengan saham mayoritas atau 51 persen. Sejak berdiri 1969, apotek pelat merah tersebut telah membuka dua cabang pembantu, yakni di wilayah Petanahan dan Gombong.
“Kami nanti bisa mencukupi terkait farmasi di puskesmas dan rumah sakit dalam bentuk yang besar,” terangnya.
Dalam draft rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang Penyertaan Modal BUMD, PT Lukulo Farma (Perseroda) pada tahun ini akan digelontor modal sebesar Rp 1 miliar. Sedangkan akumulasi penyertaan modal jangka panjang di tahun 2026-2030 rencana diberikan senilai Rp 7,5 miliar.
Penyertaan modal tersebut dilakukan melalui pembahasan APBD dengan berbagai pertimbangan, di antaranya besaran modal diberikan sesuai kondisi kemampuan anggaran daerah.
Lalu, pemkab juga telah melakukan kajian investasi serta evaluasi atas kinerja dari BUMD. “Analisis investasi sudah kami lakukan. Dan kami lihat rencana bisnisnya,” kata Kabag Perekonomian dan SDA Setda Kebumen Purnowati.
Berdasar rekapitulasi dividen BUMD pada tahun 2021-2025, Apotek Lukulo telah menyetor dividen ke kas daerah sebesar Rp 1,02 miliar. Sementara ketika sudah beralih menjadi PBF, apotek tersebut selama lima tahun ke depan diproyeksi menyumbang pendapatan daerah sebesar Rp 2,1 miliar.
Baca Juga: Akhirnya Dindikpora DIY Akui Ada Kebocoran Soal ASPD Literasi Numerik, Pelakunya Seorang Guru SMP
Terpisah, Anggota DPRD Kebumen Noviandri Dwi Alhadi menyambut baik wacana Apotek Lukulo bertransformasi menjadi holding atau perusahaan yang lebih besar.
Meski begitu, dia mengingatkan pentingnya pemkab dan segenap jajaran direksi apotek melihat berbagai peluang bisnis di bidang farmasi untuk optimalisasi pendapatan daerah. Tak hanya itu, dia juga meminta agar BUMD tersebut beradaptasi dengan menyesuaikan kebutuhan konsumen.
“Kalau mau benar-benar buat PBF, pelayanan harus dibenahi dulu. Obatnya dilengkapi, harga terjangkau dan buka 24 jam seperti apotek swasta,” ucapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo