JOGJA – Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY menyoroti potensi dampak negatif kebijakan resiprokal Amerika Serikat (AS) terhadap arus investasi asing (foreign capital inflow) ke Indonesia.
Sebagai salah satu investor institusional terbesar di dunia, langkah kebijakan dari AS dinilai bisa menggerus minat investor asing terhadap pasar modal nasional.
Kepala BEI DIY Irfan Noor Riza mengatakan, jika AS menerapkan kebijakan resiprokal, investor institusi dari negara tersebut kemungkinan besar akan menarik dananya dari pasar modal Indonesia, baik dari saham maupun obligasi.
"Hal ini bisa menyebabkan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing, yang berpotensi menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta melemahkan nilai tukar rupiah," ujarnya, Senin (14/4/2025).
Dia menjelaskan, kebijakan resiprokal sendiri merupakan kebijakan perdagangan atau investasi timbal balik.
Di mana jika suatu negara membatasi produk atau investasi dari AS, maka AS akan membalas dengan kebijakan serupa.
Jika diberlakukan, sejumlah sektor ekspor utama seperti tekstil, sawit, otomotif, dan teknologi bisa terkena dampak langsung.
“Berupa hambatan dagang, tambahan tarif, atau pembatasan akses pasar,” jelasnya.
Menurut Irfan, dampak kebijakan ini telah memicu respons dari para investor, khususnya dalam bentuk diversifikasi portofolio.
Beberapa langkah yang dilakukan termasuk mengurangi eksposur di sektor terdampak dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah.
“Perubahan strategi ini secara tidak langsung menurunkan likuiditas pasar saham,” katanya.
Dari sisi waktu, kata Irfan, reaksi investor terbagi antara jangka pendek dan jangka panjang.
Dalam jangka pendek, pasar kemungkinan mengalami tekanan akibat aksi jual instan. Namun, investor jangka panjang yang melihat potensi fundamental ekonomi Indonesia tetap optimistis.
“Mereka memandang volatilitas pasar justru sebagai peluang,” tuturnya.
Dia menambahkan, volatilitas harga saham ini bisa membawa keuntungan bagi orang-orang yang bisa melihat peluang.
Menurutnya, selalu ada peluang di pasar modal, terlepas dari apa pun kondisinya.
Dengan kondisi ini, BEI DIY meyakini bahwa penurunan IHSG justru bisa menjadi momentum bagi investor yang jeli untuk masuk dan memanfaatkan peluang investasi jangka panjang di pasar modal Indonesia.
“Investor yang jeli memanfaatkan peluang, kejatuhan IHSG saat ini menjadi momentum yang tepat untuk berinvestasi,” ucap Irfan. (tyo)
Editor : Winda Atika Ira Puspita