JOGJA - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menekan rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 16.795 Jumat (11/4/2025).
Menguat 27,50 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 16.823.
Dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global yang meningkat, Bank Indonesia (BI) terus melanjutkan langkah-langkah intervensi secara berkesinambungan di pasar keuangan domestik.
Deputi Kepala Perwakilan BI DIY Hermanto mengatakan, sejak awal pembukaan pasar pada 8 April 2025, BI telah melakukan intervensi secara agresif, khususnya di pasar valuta asing (valas), baik melalui transaksi spot maupun domestic non-deliverable forward (DNDF).
Selain itu, BI juga aktif melakukan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari strategi untuk menstabilkan pasar keuangan dan mengendalikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Tak hanya itu, BI juga terus mengoptimalkan pemanfaatan instrumen likuiditas rupiah yang tersedia.
Guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan domestik. “Untuk menjaga kelancaran fungsi intermediasi keuangan serta mendorong aktivitas ekonomi secara umum,” kata Hermanto, Jumat (11/4/2025).
Serangkaian kebijakan intervensi dan stabilisasi tersebut, kata dia, mencerminkan komitmen kuat BI dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, terhadap ketahanan dan prospek ekonomi Indonesia.
Dia menyebut, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu elemen kunci dalam menjaga kestabilan makro ekonomi secara keseluruhan.
Di mana pada akhirnya menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Hermanto menegaskan, langkah-langkah tersebut akan terus disesuaikan secara responsif dan terukur.
Sesuai dengan perkembangan kondisi pasar dan ekonomi global. “Demi memastikan efektivitas kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan di Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, kalangan eksportir melihat pelemahan rupiah ini sangat dirasakan. Terutama bagi pelaku usaha yang bahan baku produksinya didominasi produk impor.
CEO CV Woodeco Indonesia Agung Setiawan mengatakan, secara teori penguatan dolar bisa memberikan keuntungan bagi eksportir jika dilihat dari selisih kurs.
Namun dalam praktiknya, kondisi ini justru dapat menimbulkan masalah baru.
“Kalau dolar menguat, selisih kurs memang menguntungkan pengusaha. Tapi ini bisa jadi berbahaya karena buyer tidak bisa menjual barangnya di negara mereka akibat harga yang jadi terlalu tinggi,” ucapnya.
Menurutnya, pelemahan rupiah bisa membuat buyer enggan melanjutkan pembelian karena mereka kesulitan menjual kembali produk di pasar mereka.
Dia melihat dampaknya lebih terasa dari sisi kenaikan dolar karena itu tidak bisa dikondisikan.
“Kalau dolar terus naik ke Rp 19 ribu–Rp 20 ribu, semua pelaku usaha bisa terdampak,” tambahnya.
Meskipun hingga saat ini belum ada pembatalan pesanan, Agung mengaku buyer dari Amerika Serikat sudah mulai menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap ketidakpastian nilai tukar. (tyo/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita