RADAR JOGJA - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) telah mengalami fluktuasi signifikan sejak diperkenalkannya pada tahun 1945.
Perubahan nilai tukar ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan ekonomi domestik, kondisi politik, dan dinamika ekonomi global.
Pelemahan Terparah Nilai Rupiah
Salah satu periode pelemahan terparah terjadi pada tahun 1998, saat krisis moneter melanda Asia.
Pada Juni 1998, nilai tukar Rupiah mencapai level terendahnya sepanjang sejarah, yaitu Rp16.800 per Dolar AS.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Menuju 2025
Setelah krisis 1998, Rupiah perlahan pulih dan menunjukkan tren stabil hingga tahun 2007, dengan nilai tukar berkisar antara Rp9.000 hingga Rp10.000 per Dolar AS.
Namun, krisis finansial global pada tahun 2008 menyebabkan pelemahan kembali, dan nilai tukar Rupiah berada di kisaran Rp11.800 hingga di atas Rp12.000 per Dolar AS.
Memasuki tahun 2025, Rupiah kembali mengalami tekanan.
Pada 3 April 2025, nilai tukar Rupiah mencapai Rp16.772 per Dolar AS, mendekati level terendah historisnya.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kebijakan tarif impor yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang menambah ketidakpastian ekonomi global dan mempengaruhi nilai tukar Rupiah.
Tantangan dan Outlook ke Depan
Pelemahan Rupiah saat ini menimbulkan berbagai tantangan, terutama terkait dengan inflasi, daya beli masyarakat, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah, seperti melalui intervensi pasar valuta asing, penyesuaian kebijakan moneter, dan upaya peningkatan cadangan devisa.
Selain itu, menjaga kepercayaan investor dan memastikan kesinambungan kebijakan fiskal yang prudent juga menjadi kunci dalam upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah di masa mendatang.
(Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Iwa Ikhwanudin