JOGJA - Meski puasa Ramadan baru berlangsung beberapa hari, namun animo masyarakat untuk membeli tiket mudik lebaran sudah cukup tinggi. Baik untuk moda transportasi kereta api, maupun pesawat terbang.
Merespons hal tersebut, Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Dr. Dewanti menuturkan, permintaan yang tinggi dari masyarakat tersebut harus disikapi secara bijak, baik oleh pemerintah maupun penyedia layanan transportasi."Soal tarif, Presiden Prabowo sudah mewanti-wanti angkutan lebaran untuk diturunkan harganya," katanya pada Radar Jogja, Selasa (4/3).
Penurunan harga tersebut, menurutnya jadi salah satu alasan yang mendasari masyarakat segera melakukan pembelian tiket jauh-jauh hari. Karena secara pola yang ada, semakin dengan momen lebaran, ada kekhawatiran harga tiket akan naik, di samping itu belum tentu juga masih tersedia. "Pemerintah harus aware soal itu, jangan sampai harganya dinaikkan tanpa kesepakatan atau rasionalisasi," ujarnya.
Menyoal transportasi kereta api, Dewanti menyampaikan jika permintaan atau pembelian tiket dari masyarakat tinggi, hal tersebut akan menyebabkan adanya tambahan layanan perjalanan dan gerbong yang disediakan. "Kalau ada relasi atau perjalanan tambahan, harus ada pengaturan traffic dan layanan, grafik perjalanan kereta juga harus dipikirkan," pesannya.
Ia berpandangan, dengan masifnya pengguna transportasi umum, hal tersebut diharapkan akan berimplikasi positif pada arus kendaraan. Agar tidak menumpuk dan menimbulkan kepadatan di satu waktu dan satu tempat. "Rasanya tranportasi umum cukup jadi solusi, apalagi bulan ini masih hujan, dan sangat tidak terprediksi hujannya," urainya.
Dia juga menyoroti rencana pemerintah untuk memajukan tanggal cuti bersama lebaran. Hal tersebut menurutnya jadi salah satu langkah krusial, karena bisa mengurai kepadatan atau kemacetan jelang lebaran."Memajukan cuti bersama itu upaya pengaturan angkutan lebaran agar tidak menumpuk. Masalah lalu lintas itu muncul kalau banyak orang bergerak di waktu yang bersamaan, di tempat yang sama," bebernya.
Baca Juga: Mengenal Andini Putri, Bomber Andalan BMVC di KU 2012 Yang Masih Duduk di Bangku SD
Jika benar cuti bersama akan dimajukan, ia menilai hal tersebut bisa cukup efektif mengurai kepadatan. Di samping itu, solusi yang juga mungkin bisa dilakukan adalah menerapkan sistem work from anywhere (WfA).
Dengan WfA, maka kepadatan lalulintas bisa diuraikan, dan hal tersebut bisa berdampak positif bagi pengguna jalan. "Ada istilah transport demand management, jangan menumpuk di satu waktu, kalau puncaknya di satu waktu akan menimbulkan persoalan," ujarnya mengingatkan.
Baca Juga: Ketersediaan Beras di Kota Jogja Hingga Lebaran Diklaim Pemkot Jogja Aman, Stok Sebanyak 4.400 Ton
Terpisah, penuturan datang dari Alma Lutfia, mahasiswi UMY ini mengaku sudah melakukan pembelian tiket kereta api untuk mudik lebaran mendatang. "Belajar dari mudik tahun baru lalu, beli mepet berangkat ternyata sisa tiket yang mahal. Jadi sekarang beli jauh-jauh hari," paparnya. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo