JOGJA – Menyambut bulan Ramadan, masyarakat Indonesia umumnya menghadapi kenaikan harga bahan pokok dan sembako, baik sebelum maupun selama bulan suci.
Menanggapi hal ini, pengamat perbankan, keuangan, dan investasi sekaligus Dosen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) I Wayan Nuka Lantara mengingatkan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak.
Wayan menyebut, kebiasaan pengeluaran lebih besar selama Ramadan, seperti belanja baju, pernak-pernik, kue Lebaran, hingga tradisi memberi hampers, sering kali terjadi.
Menurutnya, hal ini perlu dilakukan dengan hati-hati agar pengeluaran tidak melebihi kemampuan finansial.
"Saya khawatir orang-orang spending egonya lebih tinggi dari income yang didapat, itu cukup banyak terjadi," katanya, Minggu (18/2/2025).
Wayan menekankan bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.
Ia berharap Ramadan menjadi momentum untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran.
"Jangan mudah tergoda spending tanpa rasionalisasi. Harus selalu menyiapkan dana darurat di banyak sektor," pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa Ramadan tahun ini jatuh di awal tahun, yang seharusnya menambah kesadaran untuk menahan diri, setelah pengeluaran besar di awal tahun, seperti untuk perayaan Tahun Baru.
Terlebih mereka spending dengan dana yang sebetulnya untuk kebutuhan primer.
Baca Juga: Kembali Telan Kekalahan, Timnas Indonesia Masih Puasa Poin di Grup C Piala Asia U20 2035
Apalagi, bulan Ramadan 2025 sendiri jatuh pada bulan Maret, yang mana termasuk periode awal tahun. Menurutnya, kesadaran untuk menahan diri sangat perlu dimiliki.
Wayan berharap, bulan Ramadan nanti jadi momentum yang tepat untuk bisa mengerem pengeluaran.
Sebab, ada berbagai tantangan dari segi ekonomi yang perlu diwaspadai.
Seorang warga Kotagede Aji Firmansyah mengungkapkan, bahwa ia telah mempersiapkan diri dengan penghematan pada Februari ini, untuk mengantisipasi pengeluaran besar selama Ramadan.
Apalagi, akan mengeluarkan banyak pengeluaran mulai berbelanja kebutuhan Lebaran dan memberi tunjangan hari raya (THR) untuk keluarga.
“Sebagai anak pertama dan bapak sudah tidak ada, saya yang menanggung biaya rumah, termasuk untuk Ramadan nanti,” ujar pria yang bekerja sebagai event organizer (EO). (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita