SLEMAN - Jogja Business Matching 2025 kembali diselenggarakan di Sahid Raya Hotel dan Convetion Yogyakarta, Rabu (12/2). Even tersebut dinilai menjadi salah satu upaya menumbuhkan perekonomian sektor pariwisata yang saat ini terdampak kebijakan refocusing anggaran dari pemerintah.
Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Imam Pratanadi mengatakan Jogja Business Matching konsisten diselenggarakan sejak 2019. Even tersebut merupakan salah satu inisiatif yang membantu kondisi perekonomian terutama sejak adanya kebijakan refocusing anggaran pemerintah dalam mendukung perkembangan industri pariwisata.
Baca Juga: Gas Melon Masih Sulit Ditemukan, Beberapa Warga Jogja Pilih Gas Portable hingga Arang untuk Pengganti Sementara
"Salah satunya adalah Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), para intansi bisa mengetahui tempat pemyelenggaraan program dengan harga yang sesuai kondisi anggaran yang terbatas," ujarnya pasca acara, Rabu (12/2).
Informasi dari even tersebut mendorong hadirnya instansi pemerintah daerah untuk memanfaatkan fasilitas MICE yang ada di DIJ. Dengan pertemuan langsung antara pelaku usaha sektor pariwisata dan mitra yang dalam hal ini instansi pemerintah dan swasta dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi.
"Mestinya dealnya tidak hanya tahun ini, bisa tahun depan, karena kondisi perekonomian kedepan dimungkinkan lebih baik," tuturnya.
Baca Juga: Hajar Pendapatan Hotel, PHRI DIY Khawatir Dampak Inpres Lebih Parah Dari Pandemi Covid-19
Ia tidak menampik adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat sangat terasa di sektor pariwisata. Menurutnya efisiensi anggaran menjadikan anggaran untuk memberikan dukung sektor pariwisata menjadi sangat minim, khususnya untuk even.
"Keterbatasan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui sertifikasi yang biasanya bisa terfasilitasi juga terdampak," bebernya.
Menurutnya para pelaku usaha pariwisata di tahun ini fokus pada kolaborasi bukan malah kompetisi salah satunya melalui even semacam itu. Anggaran yang terdampak belum secara detail disampaikan karena masih proses perhitungan.
"Di antaranya APBD Murni dan banyak dari Dana Keistimewaan yang dikurangi," terangnya.
Baca Juga: Hasil Sydney FC vs Bangkok United, Pratama Arhan Assist, BUFC Curi Satu Poin Berharga
Project Director Tourism Business Matching 2025 Sri Astuti menambahkan acara tersebut melibatkan perusahaan, instansi dan agen travel yang dibidik sebagai buyer. Adanya efisiensi anggaran yang berdampak pada pengadaan MICE oleh instansi pemerintah, pihaknya berharap para pelaku usaha pariwisata bisa menargetkan pihak-pihak swasta.
"Mereka bisa dapatkan konsumen baru, daripada menunggu buyyer dari pemerintahan," ujarnya.
Baca Juga: Prediksi Monaco vs Benfica Liga Champions Kamis 13 Februari Kick Off 03.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Acara tersebut diikuti sekitar 70 seller yang berasal dari pelaku industri pariwisata seperti hotel, travel agent, restaurant, pusat oleh-oleh, pengelola destinasi wisata, desa wisata, dan lain sebagainya. Sementara untuk buyernya, terdiri atas corporate dan organisasi perangkat daerah (OPD) provinsi dan kabupaten kota, serta dari travel agent.
"Untuk travel agent, berasal dari berbagai organisasi di wilayah DIJ, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta," tuturnya.
Ia menargetkan transaksi antara seller buyer dalam even tersebut bisa menembus Rp 1,75 miliar. (oso)