Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiga Warga Bantul Sulap Limbah Kayu Jadi Karya Seni Tiga Dimensi, Nyari Bahannya ke Pantai, Satunya Dijual Rp 1 Juta-Rp 3 juta

Khairul Ma'arif • Senin, 20 Januari 2025 | 04:25 WIB

 

HIDUP: Pembuatan hiasan interior ruangan (rumah atau perkantoran) yang estetik dengan bahan baku limbah kayu.
HIDUP: Pembuatan hiasan interior ruangan (rumah atau perkantoran) yang estetik dengan bahan baku limbah kayu.

 

BANTUL - Limbah kayu yang tidak terpakai hanya menjadi onggokan sampah tak berguna. Namun bagi tiga warga Bantul ini, limbah kayu dapat disulap menjadi karya seni tiga dimensi bernilai jual tinggi.

 

Sampah kayu di pedesaan Bantul jumlahnya tidak sedikit. Ditambah lagi sampah kayu yang terbuang ke pesisir laut seperti di Srandakan. Jumlahnya melimpah dan mudah ditemukan.

Lewat tangan tiga orang kreatif dari Srandakan ini, limbah kayu bisa dibuat menjadi karya seni. Ketiga orang ini adalah Sukito, Ikhsan Nurdin, dan Taufik Soleh, semua warga Padukuhan Wonotingal, Poncosari.

Sudah sejak 2020 ketiganya berbagi tugas membuat karya seni yang peruntukannya sebagai hiasan interior ruangan. “100 persen bahan dasarnya limbah kayu,” ujar Taufik saat ditemui di markas pembuatannya Minggu (19/1)

Mayoritas limbah kayu pantai yang digunakan sebagai bahan bakunya. Untuk merangkai menjadi karya seni tiga dimensi yang utuh, dibutuhkan tambahan lem perekat dan cat. Tujuannya memperindah serta memperkuat warna.

Sisanya limbah kayu pantai dan yang terbuang di berbagai tempat lainnya digunakan sebagai bahan dasar. Karya tiga dimensi yang dihasilkan selalu berupa lanskap rumah-rumah di pedesaan.

"Karya kami biasanya dibeli untuk hiasan interior rumah maupun perkantoran,” sambung pria berusia 43 tahun ini. Modal produksinya hanya untuk pembelian cat dan lem perekat. Sedangkan kayu sepenuhnya bersumber dari sampah yang dicarinya secara berkeliling.

Kondisi itu tentu dapat menekan biaya produksi yang hanya sekitar Rp 300 ribu saja. Sedangkan harga jualnya mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta untuk ukuran satu meter hingga satu meter setengah.

Ada juga yang seharga Rp 1 jutaan untuk ukuran di bawah satu meter. "Untuk kayunya, biasanya nyari berkeliling sambal lihat-lihat pemandangan pantai,” tuturnya.

Dia mengakui sementara ini produk yang mereka hasilkan masih sangat terbatas. Dalam satu bulan satu karya tiga dimensi selesai, itu pun sudah bagus.

Oleh karena itu, omzet selama ini belum dapat menjanjikan karena keterbatasan produk yang dihasilkan. Apalagi bahan bakunya yang memang benar-benar limbah kayu.

Menurutnya, tidak hanya limbah kayu pantai tetapi juga terkadang ada kayu-kayu bekas di alam yang terbuang begitu saja juga turut digunakan. "Biasanya kayu yang berada di alam lebih kuat daya tahannya,” ungkapnya.

Sementara ini pengiriman terjauh baru sampai Solo, karena rentannya produk terhadap kerusakan ketika dikirim melintasi batas yang jauh dan memakan waktu lama.

Ketiganya memang menjadikan pekerjaan ini hanya sambilan. Tetapi tentu sangat menjanjikan apabila produk yang dihasilkan sudah banyak karena pasar pembelinya sudah ada.

Ikhsan Nurdin menambahkan, dari ketiga owner ini memiliki tugas masing-masing. Seperti dirinya yang membantu dalam bidang pemasaran dan penjualan.

Sedangkan dua lainnya di bidang produksi pembuatan dan bahan baku. “Selama ini penjualan kami online saja,” bebernya. (laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#Solo #srandakan #kayu #tiga dimensi #Bantul #Sampah #karya seni #Poncosari #limbah kayu #bahan baku