JOGJA – Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat persentase penduduk miskin pada September 2024 sebesar 10,40 persen. Jumlah itu turun 0,43 persen poin dibandingkan Maret 2024.
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengatakan, jumlah penduduk miskin di DIY pada September 2024 sebanyak 430,47 ribu orang. Berkurang 15,1 ribu orang terhadap Maret 2024. Sementara pada Maret 2024, jumlah warga miskin di DIY mencapai 445,55 ribu orang. “Apabila dibandingkan Maret 2023, jumlah penduduk miskin September 2024 berkurang 18 ribu orang,” katanya, Rabu (15/1/2025).
Baca Juga: Kapasitas Pengolahan 50 Ton, TPST Modalan Masih Olah Sampah 15 Ton per Hari
Herum menjelaskan, jumlah penduduk miskin di perkotaan pada September 2024 sebanyak 316,81 ribu orang, turun sebanyak 2,6 ribu orang dibandingkan Maret 2024. Sementara itu, jumlah penduduk miskin pedesaan pada September 2024 sebanyak 113,66 ribu orang atau mengalami penurunan 12,5 ribu orang dibandingkan Maret 2024.
“Pada September 2024, rata-rata rumah tangga miskin di DIY memiliki 4,32 orang anggota rumah tangga. Jika ditinjau secara rumah tangga, maka garis kemiskinan rumah tangga mencapai Rp 2.649.758 tiap rumah tangga per bulan,” bebernya.
Dia mengungkapkan, tingkat kemiskinan DIY pada periode September 2017 sampai September 2024 menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. Baik dari sisi jumlah maupun persentase. Meskipun sempat mengalami peningkatan pada Maret 2020, September 2020, dan Maret 2021 akibat Covid-19. “Pada September 2017, jumlah penduduk miskin di DIY mencapai 466,33 ribu orang,” ungkapnya.
Baca Juga: Sekarang Semuanya Teras Malioboro, Tak Ada Lagi TM 1 dan TM 2
Herum menyebut, ada sejumlah faktor yang membuat angka kemiskinan di DIY relatif cepat turun. Faktor pertama adanya pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari triwulan III 2024 terhadap triwulan III 2023 sebesar 5,05 persen. “Kemudian juga perkembangan harga yang lebih kondusif, ekspor-impor yang selalu positif,” jelasnya.
Menurutnya, faktor menurunnya jumlah warga miskin itu tidak hanya peran dari inflasi dan juga pertumbuhan ekonomi saja. Ada bantuan sosial dari pemerintah pusat selama Januari-September 2024. Lalu tingkat pengangguran yang turun 0,21 persen (Agustus 2023-Agustus 2024) juga menjadi faktor.
“Dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa, penurunan (kemiskinan) DIY itu tercepat dalam 10 tahun terakhir, penurunnaya mencapai empat persen. Jadi kita punya harapan tapi butuh waktu,” ujar Herum.
Baca Juga: Terimbas Pembangunan Tol Jogja-Solo, GKR Mangkubumi Pimpin Prosesi Pemindahan Makam Mbah Celeng
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hermanto mengatakan, adanya penurunan ini berkaitan dengan upaya pemerintah mengendalikan inflasi yang terjadi sejak 2023 hingga 2024. Selain itu, pengendalian inflasi menjadi cara agar masyarakat yang berada di atas garis kemiskinan tetap bertahan.
"Kalau inflasi terkendali, saya kira angka kemiskinan, baik di atas garis kemiskinan dan yang sedang naik dari status kemiskinan ini juga terjaga," katanya.
Menurutnya, daya beli masyarakat juga perlu dijaga. Sebab, inflasi juga berkaitan dengan kebiasaan warga ketika berbelanja, baik kebutuhan primer hingga sekunder.
"Ada kaitannya dengan pembinaan dari kepala daerah di DIY dan masukan dari kami untuk mengintervensi melalui bansos dan lainnya ke warga yang miskin dan yang ada di atas garis miskin," tandasnya. (tyo)
Editor : Heru Pratomo