KEBUMEN - Sektor usaha mikro kecil menengah di Kecamatan Ambal kian bergeliat. Tak terkecuali bagi pelaku usaha yang berkecimpung mengolah produk pangan emping melinjo. Bahkan, rekor tertinggi penjualan emping dalam sehari kini mampu mencapai satu ton.
Seperti diungkapkan pemilik rumah produksi emping, Yulianto, 50, asal Desa Benerwetan, Kecamatan Ambal. Dia mengaku omzet penjualan emping belakangan ini cukup menjanjikan. Kondisi tersebut tak lepas dari sistem penjualan secara online. "Kami juga ambil dari perajin di wilayah Buluspesantren dan Mirit. Tapi dominan di Ambal. Angka produksinya 800 kilogram. Pernah 1,2 ton satu hari," jelasnya, Kamis (21/11).
Yuli mengatakan, emping melinjo memang menjadi produk unggulan di wilayah Urut Sewu atau pesisir selatan Kebumen. Khususnya di Kecamatan Ambal. Dia menyebut, saat ini terdapat sekitar 2.800 perajin emping dari ujung Buluspesantren hingga Mirit. "Potensi produksi masih besar. Cuma kendala bahan baku. Saya malah ambil dari Serang, Lampung dan Jogja," katanya.
Yuli melihat keterserapan emping khas Ambal selama ini sangat kurang optimal. Banyak faktor yang mengakibatkan penjualan produk camilan tersebut lesu. Seperti persaingan pasar dan kepastian harga.
Selain itu, perajin emping di wilayah Ambal belum berfikir untuk merambah penjualan secara online. Hal ini karena sebagian besar perajin merupakan ibu rumah tangga yang gagap teknologi. "Kami coba fasilitasi. Bayaran sesuai barang yang ada. Di rumah tinggal fokus nuthuk (produksi) emping saja. Kalau harga lagi tinggi bisa Rp 100 ribu per kilogram," ucapnya.
Atas kondisi itu dia perlahan mencoba membangun sistem penjualan online. Tak disangka, upaya tersebut ternyata mendapat respon positif dari masyarakat dari berbagai daerah. Langkah ini juga menjadi bagian dalam mewujudkan iklim usaha dari hulu hingga hilir. "Kenapa pohon melinjo sekarang banyak ditebang, karena tidak ada kepastian harga emping. Nah, kami berfikir warga Ambal harus berdaya dari emping," ungkapnya.
Menurut Yuli, emping menjadi penganan masyarakat dari berbagai kalangan, mulai bawah hingga menengah. Oleh karena itu dia menganggap potensi penjualan emping masih terbuka lebar. "Anak-anak muda kami libatkan untuk jualan live tik-tok. Bagaimana dari pola itu bisa mencukupi kebutuhan pasar," pungkasnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo