RADAR JOGJA - Boikot terhadap produk yang mendukung Israel di Tanah Air dinilai berhasil.
Pasalnya, perusahaan makanan cepat saji terkenal KFC di Indonesia diberitakan tengah merugi.
Restoran cepat saji asal Amerika Serikat, kini menutup banyak cabang gerainya di Indonesia.
Alhasil banyak karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Mengutip dari berbagai sumber, pemegang merek dagang KFC di Indonesia, yakni PT Fast Food Indonesia (FAST) melaporkan kerugian yang dialaminya terkhusus KFC hingga Rp 557 Miliar per kuartal III tahun 2024.
Akibat tekanan tersebut, sekitar 47 gerai ditutup serta PHK massal karyawannya.
FAST mengatakan ,kerugian ini sudah mulai terlihat sejak krisis pandemi Covid-19 di Tanah Air serta konflik internasional.
Namun, dugaan kuat datang dari alasan kedua.
Aksi boikot terhadap beberapa produk asing terutama dari AS menjadi alasan khusus di balik kerugian tersebut.
Meskipun tidak terlalu gencar, aksi boikot di Indonesia dinilai sudah menjadi tekanan bagi FAST dalam menjalankan bisnis makanan cepat saji beberapa tahun terakhir.
Mengetahui kabar tersebut, banyak netizen berpendapat tentang aksi boikot ini.
Dilansir dari sebuah Thread yang dibagikan di X oleh akun @hermawan_devina yang diakses pada Kamis, (7/11/2024), beberapa netizen mengutarakan pendapatnya berkaitan dengan ruginya KFC akibat boikot.
“Yg ditakutkan kalo alasan tutup aslinya bukan karena boikot. Tpi karena perputaran ekonomi yg mengering & menipis sih…,” tulis akun itu.
“Satu raksasa bisnis runtuh itu memberi peluang bagi yang lain untuk berkembang. Franchise asing runtuh, franchise lokal jdi punya kesempatan emas untuk berkembang. Aneh aja produk lokal dapet kesempatan emas, malah ada yang gak seneng…,” tulis akun lainnya.
“Bukan imbas boikot aja, emang daya beli masyarakat turun. Gaji ga naik – naik, pekerjaan sulit mending beli fried chicken gerobak pinggir jalan kalau pengen,..” serta masih banyak komentar lain yang menanggapi Thread tersebut.
Pada intinya, banyak yang mendukung aksi boikot ini terhadap produk waralaba asing seperti KFC di Indonesia.
Meskipun beberapa komentar netizen mengutarakan bahwa aksi boikot ini dinilai terlalu berlebihan dan tidak rasional.
Hal itu disebabkan banyaknya para karyawan terkena dampak PHK massal yang mana tidak ada kaitannya langsung dengan konflik internasional yang terjadi di Timur Tengah.
Pihak FAST sendiri sudah mengklaim perjalanan bisnisnya tetap loyal terhadap kebijakan pemerintah, sehingga tidak berkaitan langsung dengan krisis internasional yang dimaksud.
Perlu diketahui bahwa beberapa waralaba produk makanan yang diboikot tidak hanya KFC saja.
Ada juga beberapa waralaba seperti McDonald’s dan Burger King, Starbucks, serta Pizza Hut.
Belum ada laporan kerugian dari produk makanan lain, namun dari kerugian KFC dapat terlihat bahwa dampak boikot memberikan efek yang cukup signifikan bagi jalannya perusahaan produk asing yang ada di Indonesia. (Muhammad Malik Nadzif)
Editor : Meitika Candra Lantiva