Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Beban Ekonomi Warisan Jokowi: Tantangan Besar bagi Prabowo Subianto

Bahana. • Senin, 21 Oktober 2024 | 20:42 WIB

Foto Prabowo Subianto & Joko Widodo (Sumber: Akun Instagram @prabowo)
Foto Prabowo Subianto & Joko Widodo (Sumber: Akun Instagram @prabowo)
RADAR JOGJA – Pemerintahan baru yang dipimpin oleh Prabowo Subianto dihadapkan pada tantangan berat terkait warisan ekonomi dari pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh Joko Widodo.

Salah satu isu utama yang menjadi sorotan saat ini adalah beban utang pemerintah yang mencapai angka yang mengkhawatirkan (21/10/2024).

Utang Pemerintah yang Mencapai Rp8.000 Triliun

Data terbaru menunjukkan bahwa utang pemerintah Indonesia telah melampaui Rp8.000 triliun, dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 39,13% pada Juni 2024.

Meskipun angka ini masih berada di bawah batas maksimal 60% yang ditetapkan oleh Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, namun besarnya utang ini tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintahan Prabowo.

Jatuh Tempo Utang yang Menghantui

Salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah utang yang jatuh tempo pada tahun 2025, yang diperkirakan mencapai Rp800,33 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp705,5 triliun berasal dari Surat Berharga Negara (SBN), sementara pinjaman lainnya mencapai Rp94,83 triliun.

Hal ini menandakan bahwa pemerintahan baru harus segera merumuskan strategi untuk mengatasi pembayaran utang yang akan datang.

Beban Bunga Utang yang Menekan Anggaran

Tidak hanya utang pokok, tetapi juga bunga utang menjadi beban tambahan bagi anggaran negara. Pada tahun 2025, total bunga utang diperkirakan mencapai Rp552,85 triliun.

Dengan demikian, total pembayaran utang dan bunga akan mencapai Rp1.353,1 triliun, sebuah angka yang sangat besar dan akan membebani keuangan negara.

Ruang Fiskal Terbatas untuk Program Ambisius

Kondisi ini tentunya mempersempit ruang fiskal bagi Prabowo dalam melanjutkan berbagai program ambisius yang dijanjikan selama kampanye, seperti penyediaan makan siang gratis untuk masyarakat.

Tanpa adanya tambahan pendapatan atau pengelolaan anggaran yang efisien, program-program tersebut berpotensi terhambat.

Potensi Penambahan Utang Baru

Untuk menutupi defisit anggaran, pemerintah baru berencana menambah utang sebesar Rp775,9 triliun pada tahun 2025.

Namun, langkah ini juga menunjukkan adanya risiko "gali lubang tutup lubang," di mana tambahan utang digunakan untuk menutupi utang yang jatuh tempo, bukan untuk membiayai pembangunan jangka panjang.

Dengan beban ekonomi warisan dari pemerintahan Jokowi yang cukup berat, Prabowo Subianto harus menghadapi tantangan besar dalam mengelola keuangan negara.

Strategi dan kebijakan yang tepat akan sangat diperlukan untuk memastikan stabilitas ekonomi Indonesia ke depan dan mewujudkan harapan masyarakat akan pembangunan yang berkelanjutan.

Penulis: Indah Cahya Mentari

Editor : Bahana.
#utang negara #Jokowi #prabowo