SLEMAN – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diinisiasi oleh BPJS Kesehatan telah memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia.
Khususnya bagi mereka yang mengalami masalah kesehatan jangka panjang.
Salah satu contoh nyata adalah pengalaman Sri Subiartini (67), seorang ibu rumah tangga yang telah berjuang melawan penyakit saraf kejepit selama tujuh tahun terakhir.
Saat ditemui di Rumah Sakit Umum Queen Latifa, Kamis (17/10/2024), Sri menceritakan betapa sulitnya menjalani kehidupan sehari-hari ketika penyakitnya kambuh, ia menggambarkan betapa beratnya beban yang harus dia tanggung.
"Kalau lagi kumat itu nyeri. Untuk jalan dan duduk itu sakit. Pernah sampai enggak bisa jalan sama sekali," ujarnya.
Sri mengungkapkan bahwa ia mendapatkan rujukan untuk kontrol setiap dua minggu sekali, namun hanya ketika penyakitnya terasa parah.
Selama ini, dia menjalani perawatan rawat jalan tanpa perlu dirawat inap.
"Ini baru sakit. Enggak setiap waktu periksa, kalau terasa nyeri saja," tambahnya.
Kendati telah lama menderita, dalam kesehariannya Sri tetap patuh pada anjuran dokter untuk mengonsumsi obat dan menjaga pola makan.
Menurut informasi yang diterimanya, penyakit ini dipicu oleh kecelakaan saat muda, dengan dampak yang baru terasa setelah usia 50 tahun.
"Mengidap penyakit dalam waktu lama jelas bukan hal menyenangkan, tetapi untungnya ada Program JKN, ini sangat membantu," ucapnya mengungkapkan rasa syukur.
Dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga dan bukan pekerja, Sri menyadari betapa besar kesulitan yang akan ia hadapi jika tidak ada bantuan dari Program JKN, ditambah lagi ia tinggal bersama cucunya.
Ia sadar betapa pentingnya akses kesehatan yang terjangkau.
"Soalnya kalau ada keluhan terus enggak belum terdaftar sebagai peserta JKN, pasti kesulitan dan bingung," ungkapnya.
Dia juga menceritakan pengalamannya mengenai biaya perawatan yang sangat mahal jika dihitung secara keseluruhan, termasuk untuk obat, rontgen, dan terapi.
Dalam beberapa kesempatan, dia menerima suntikan untuk mengurangi rasa sakitnya, yang sangat membantu dalam mengatasi keluhan yang dialaminya.
"Saya juga pernah mendapatkan layanan canggih Magnetic Resonance Imaging (MRI). Biaya totalnya pasti mahal sekali," katanya.
Sri mengaku tidak tahu pasti berapa kali dia menggunakan fasilitas Program JKN, tetapi jika membayangkan total biaya perawatannya, dia merasa sangat beruntung.
"Alhamdulillah, tidak hanya saya. Keluarga juga terdaftar sebagai peserta JKN," tambahnya.
Sebagai peserta JKN penerima bantuan iuran kelas tiga, semua iuran bulanan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah, sehingga ia tidak perlu membayar iuran tiap bulannya.
Meskipun menerima fasilitas kelas tiga, Sri merasa sangat puas dengan layanan yang didapat, tidak ada perbedaan apapun.
Proses administrasi yang cepat dan mudah juga membuatnya merasa tidak terbebani.
"Bagus sekali. Saya puas dengan pelayanan yang diberikan. Semua prosesnya lancar. Tidak ada dibedakan antara pasien JKN dengan pasien umum. Rasanya senang karena bisa terbantu," tambahnya.
Sri tidak hanya menikmati manfaat pribadi dari Program JKN, tetapi juga sering berbagi pengalamannya dengan tetangga.
Dia merekomendasikan layanan yang baik yang ia terima, termasuk rumah sakit yang memberikan pelayanan prima bagi pasien BPJS Kesehatan.
"BPJS Kesehatan bagus sekali pelayanannya," tegasnya.
Harapan Sri adalah agar pelayanan BPJS Kesehatan dapat terus ada dan semakin diperluas agar lebih banyak masyarakat yang dapat terbantu dari program ini.
"Kalau enggak ada bantuan dari BPJS Kesehatan seperti ini, pasti banyak yang terbentur dengan biaya," pungkasnya.
Dengan adanya program ini, Sri dan banyak masyarakat lainnya dapat merasakan manfaat nyata dari akses kesehatan yang lebih baik, menjadikan BPJS Kesehatan sebagai solusi penting dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia.