JOGJA - Tahun ini pemerintah pusat telah menyalurkan anggaran Rp 43,52 trilliun dan Rp 231,8 triliun untuk program pembiayaan Ulta Mikro (UMi) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Beberapa pelaku UMKM di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) ikut terdampak program tersebut.
Program KUR hingga saat ini masih disediakan untuk membantu pembiayaan pelaku UMK yang produktif. KUR diperuntukkan bagi UMKM yang belum memiliki agunan tambahan yang cukup. Suku bunga KUR tahun ini sebesar enam persen efektif per tahun.
"Khusus program KUR Supermikro (Supermi) serta Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) hanya dikenakan bunga sebesar tiga persen," ujar Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) DIJ Agung Yulianta, Jumat (18/10/2024)
Baca Juga: Rangkaian GOP, 16 Pelajar SD Se-Kota Jogja Ikuti Seleksi Panjat Tebing
Baca Juga: Gempa Megathrust Nyata Tak Perlu Panik, Warga Kebumen Diimbau Memperkuat Mitigasi
Ia mencatat pulau Jawa memiliki angka tertinggi sebesar Rp 26,28 triliun untuk 7,06 juta debitur yang diantarannya merupakan wilayah DIJ. "Itu berdasarkan data terakhir pada 12 Oktober 2024," ujarnya,
Adanya dua program tersebut juga dirasakan oleh beberapa pelaku UMKM di DIJ. Salah satu pemilik toko Teo Craft Yogyakarta Muji Rahayu mengatakan pembiayaan UMi membantu mengembangkan bisnisnya. "Saya menjual produk kerajinan tangan tradisional jadi meningkat kapasitas produksi dan mulai merambah pasar luas," ujar pemilik toko kerajinan asal Sentolo, Kulon Progo itu.
Pelaku UMKM lainnya yakni pengusaha makanan prol tape dari Yogyakarta Juli Hariyati juga merupakan UMKM yang mengakses program UMi. Bantuan yang ia terima dimanfaatkan untuk menambah peralatan produksi. "Produksinya meningkat, sehari bisa 25 loyang prol tape," ujarnya. (oso)
Editor : Heru Pratomo