Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sepanjang 2024 DIY Mengalami Deflasi Kali Kelima, Benarkah karena Terjadi Penurunan Daya Beli Masyarakat?

Elang Kharisma Dewangga • Senin, 7 Oktober 2024 | 14:30 WIB

 

 

Pedagang menanti pengunjung yang datang membeli di Pasar Bringharjo, Jogja, Sabtu (5/10/2024).
Pedagang menanti pengunjung yang datang membeli di Pasar Bringharjo, Jogja, Sabtu (5/10/2024).

RADAR JOGJA - Provinsi DIY kembali mengalami deflasi bulan lalu (September). Ini adalah deflasi kelima sepanjang 2024. Sebelumnya, deflasi terjadi pada Januari, Mei, Juni dan Juli. Sementara inflasi baru tercatat empat kali terjadi sejauh ini. Benarkah deflasi terjadi karena adanya penurunan daya beli masyarakat?

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, deflasi pada September 2024 sebesar 0,10 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Sementara secara tahunan atau year-on-year (yoy) terjadi inflasi 1,85 persen. Lalu secara tahun kalender atau year-to-date (ytd) terjadi inflasi sebesar 0,48 persen.

Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengatakan, deflasi disebabkan oleh beberapa faktor, terutama dalam konteks penurunan harga barang dan komoditas. Yakni turunnya harga cabai merah, cabai rawit, cabai hijau, daging ayam ras, hingga bahan bakar minyak (BBM. “Sebenarnya lebih dari lima, tapi itu penyumbang terbesarnya,” katanya kepada Radar Jogja Minggu (6/10/2024).

Sementara komoditas penghambat deflasi adalah kopi bubuk, emas perhiasan, sawi hijau, sigaret kretek mesin, dan beras.

Ia menyebut, penurunan daya beli masyarakat bisa menjadi faktor yang berkontribusi. Namun BPS saat ini belum mendeteksi terkait hal itu. “Kami belum mendeteksi sampai sana, tapi kalau ada dugaan itu ya boleh saja,”  sebutnya.

Deflasi yang terjadi di DIY sendiri juga sejalan dengan deflasi tingkat nasional. Di mana secara nasional juga telah lima kali terjadi deflasi. Secara nasional, stok barang yang ada relatif lebih melimpah dari tahun lalu. Lalu, ada faktor dari penurunan harga minyak dunia yang menyebabkan harga BBM turun.

Sementara konsumsi masyarakat untuk BBM cukup tinggi. “Andil bensin dalam membentuk deflasi cukup tinggi. Penurunan harga bensin akan berdampak luas pada biaya transportasi dan harga barang lainnya,” jelas Herum.

Sepanjang 2023 lalu DIY hanya sekali mengalami deflasi. Yakni pada Agustus sebesar 0,04 persen. Herum menilai, penyebab perbedaan kondisi antara tahun lalu dengan tahun ini adalah faktor cuaca, terutama El Nino. Selain itu, adanya kenaikan harga gabah pada Juni 2023. “Artinya ada kebijakan pemerintah yang menaikkan harga gabah, tapi yang lebih besar karena El Nino,” ujarnya.

Ia menuturkan, deflasi yang berkepanjangan dapat berdampak kepada kondisi ekonomi yang lesu. Inflasi yang terlalu rendah dapat berdampak negatif pada perekonomian.

Mengacu pada asumsi makro pemerintah, rentang inflasi di tahun ini sebesar 2,5 persen dengan plus-minus 1 persen.  Angka itu ideal untuk menjaga perekonomian tetap sehat. Jika inflasi terlalu rendah, misalnya di bawah 1,5 persen, bisa menunjukkan kelemahan dalam permintaan dan pertumbuhan ekonomi.

“Tahun 2024 ini mengarah di posisi bawah, di asumsi makro. Ibarat tekanan darah, apabila rendah maka akan kurang kondusif. Begitu pula jika terlalu tinggi,” ucap Herum.

Ia mengatakan, kondisi inflasi akan tetap dalam rentang yang relatif kondusif jika situasi harga tetap terjaga. BPS masih akan memantau perkembangan di tiga bulan terakhir 2024. Memantau pergerakan harga minyak dunia, apakah harga BBM akan terus menurun atau tidak.

 Baca Juga: Lebih dari 50 Persen Petani DIY Lansia, Dinilai Berpenghasilan Sedikit, Anak Muda Enggan Menjadi Petani

Serta memantau harga komoditas pangan. Di mana dalam tiga bulan ke depan, diprediksi akan masuk musim hujan yang membuat panen. Sehingga stoknya melimpah. Namun di sisi lain, permintaan pasar cenderung biasa saja.

“Bisa deflasi lagi kalau penghambatnya tidak bisa mengimbangi. Akhir-akhir ini penghambatnya harga emas yang naik tapi cenderung tidak signifikan. Lalu harga kopi dunia juga naik,” jelas Herum.

Pertumbuhan ekonomi yang melemah, kata Herum, bisa berdampak pada sektor investasi. Di mana para investor menjadi tidak bergairah dalam berinvestasi. “Kalau daya beli atau ekonomi melemah, mereka pasti berpikir ulang kalau mau naruh investasi,” paparnya.

Bank Indonesia (BI) DIY menyebut secara bulanan, penyumbang utama deflasi di DIY adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,10 persen mtm. Berdasarkan komoditas, andil penurunan terdalam disumbang oleh cabai rawit dengan andil 0,09 persen mtm, cabai merah dengan andil 0,06 persen mtm, dan cabai hijau dengan andil 0,03 persen mtm.

Hal itu sejalan dengan panen raya di daerah sentra produksi, sehingga suplai pasokan melimpah. Selain cabai, komoditas lain yang juga memiliki andil terhadap deflasi bulanan DIY adalah bensin dengan andil sebesar 0,04 persen mtm.

“Seiring dengan kebijakan penurunan harga BBM jenis Pertamax per 1 September 2024,” kata Plh Kepala Perwakilan BI DIY Hermanto.

Ia menyebut, komoditas daging ayam ras juga memiliki andil deflasi yang relatif dalam mencapai 0,02 persen mtm. Seiring oversupply di tengah permintaan yang relatif terkelola.

Hermanto mengatakan, deflasi tertahan oleh meningkatnya harga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil sebesar 0,03 persen mtm.

Ditinjau menurut komoditasnya, harga emas perhiasan mengalami peningkatan. Sejalan dengan kenaikan harga emas global sebagai dampak berlanjutnya ketidakpastian dan ketegangan geopolitik global.

Kemudian komoditas lain seperti kopi bubuk juga masih menjadi komoditas penyumbang inflasi yang didorong oleh meningkatnya harga kopi dunia. “Akibat dinamika cuaca yang mempengaruhi produktivitas kopi di negara sentra produksi,” ucap Hermanto.

 Baca Juga: Endang Sri Sumaryati Bakal Gantikan Endah Subkekti Kuntariningsih untuk Menjabat Ketua DPRD Gunungkidul Periode 2024-2029

Sigaret Kretek Mesin (SKM) juga menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi dengan andil 0,01 persen mtm. Sejalan dengan kenaikan cukai rokok yang berlaku sejak 1 Januari 2024 dengan rata-rata kenaikan sebesar 10-11,8 persen yang ditransmisikan sepanjang tahun 2024.

BI DIY memperkirakan inflasi akan terus terjaga pada kisaran targetnya. Kondisi itu didukung oleh upaya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY dalam kerangka ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif (4K). Serta melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) DIY 2024.

“Hal itu sebagai wujud komitmen BI, pemerintah, serta seluruh stakeholder dalam mencapai inflasi 2024 sesuai target sebesar 2,5 plus-minus 1 persen,” ungkap Hermanto. (tyo/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#penurunan daya beli #Provinsi DIY #BPS DIY #deflasi #BI DIY #september #kelima #sepi