SLEMAN - UMKM jadi peyangga ekonomi masyarakat. Meski demikian, faktor pemasaran masih jadi kendala untuk mereka bisa berkembang.
Menurut Konsultan Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah ( PLUT KUKM) Sleman Rahmat Sudrajat, setidaknya ada lima bidang yang harus dikuasai UMKM untuk bisa maju.
Di antaranya, sumber daya manusia, pemasaran, produksi, pembiayaan, dan kelembagaan. "Biasanya yang bermasalah saat pengembangan itu pemasaran," ucap Rahmat, Jumat (27/9).
Dia menilai, di dalam faktor pemasaran ini ada aspek daring dan luring yang perlu dibenahi. Untuk aspek daring, umumnya para pelaku hanya memiliki media sosial saja tanpa dilakukan optimalisasi. "Misal WhatsApp, umumnya mereka pakai mode biasa, padahal bisa dialihkan mode bisnis," ucapnya.
Sementara untuk aspek luring, UMKM banyak yang belum berminat untuk mengikuti pameran. Padahal, di sini jadi ajang untuk saling berjejaring dengan pelaku UMKM lain dan membuka peluang kolaborasi.
Selain itu, pelaku beberapa UMKM juga masih pesimis untuk memasukan produknya ke dalam toko oleh-oleh. "Syarat minimal tentu harus ada izin usaha. Kalau makanan itu seperti sertifikasi halal dan PIRT," tambahnya.
Rahmat menilai, kegagalan dalam pemasaran ini pada akhirnya akan berdampak pada pendapatan. Umumnya mereka yang masih ada di klasifikasi mikro hanya bisa mendapat hasil Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. "UMKM kalau sudah sampai taraf memilki pegawai, omzetnya bisa puluhan juta," tambahnya.
Dia berpesan, agar pelaku UMKM bisa aktif untuk memanfaatkan fasilitas dari pemerintah. Termasuk berkonsultasi di PLUT KUKM Sleman. "Layanan kami sesuai jam kerja. Semua bisa dimanfaatkan gratis," tambahnya.
Sementara itu, pelaku UMKM Tri Apira mengaku sepakat dengan pentingnya penggunaan teknologi untuk berdagang. "Konsumen saya justru banyak pakai layanan pesan antar," ucap pedagang pecel ini. (del)
Editor : Heru Pratomo