RADAR JOGJA - Kemandirian desa adalah mimpi terbesar bagi Kepala Desa Jatimulyo, Kecamatan Petanahan Sabit Banani. Dia tak ingin masyarakat desa hanya berkutat dan terbuai pada sektor pertanian. Tanpa memperhatikan potensi unggulan lain seperti bidang perternakan.
Dari pemikiran ini, lalu terbesit inisiatif membentuk kelompok ternak domba. Terbukti, dalam dua tahun terkahir populasi domba di Desa Jatimulyo mencapai ratusan ekor. Kondisi ini tak lepas dari keseriusan masyarakat dalam menekuni program budidaya domba. "Yang kami budidaya domba dengan kualitas dan nilai jual tinggi. Yakni domba jenis gibas ekor tipis," jelas Sabit, Jumat (9/8).
Dia yakin, hasil budidaya domba cukup menjanjikan jika digarap secara serius. Bahkan, dia menyebut bisa menjadi 'Soko Guru' ketahanan ekonomi bagi masyarakat desa. "Dari budidaya domba yang baik, itu ada dampak positif. Setidaknya warga punya celengan hewan ternak," ucapnya.
Sabit mengatakan, saat ini di Desa Jatimulyo terdapat 152 peternak domba. Mereka terdiri dari tujuh kelompok peternak dan pembudidaya mandiri. Dari pemerintah desa sendiri juga terus memfasilitasi demi keberlangsungan para peternak domba. "Awalnya itu hibah indukan 70 betina dan tujuh jantan. Sekarang sudah banyak. Kami fasilitasi pendirian kandang sampai jadi," kata Sabit.
Sabit bercerita, awalnya dia cukup khawatir program ini tak berjalan mulus. Sebab sebagian besar warga Jatimulyo kurang begitu familier dengan berternak. Kondisi ini dipicu banyak faktor, mulai dari ketidakpastian harga hewan ternak. Kemudian, tingkat kematian hewan cukup tinggi, sehingga masyarakat enggan berternak. "Kami sekarang sudah ada pengepul khusus. Begitu siap jual, langsung diambil," beber Sabit.
Namun, bayang-bayang kekhawatiran itu tak menjadi soal usai dirinya berkonsultasi dengan banyak pihak. Ditambah lagi, selama proses budidaya para peternak selalu mendapat pendampingan dari dokter hewan di kecamatan setempat. "Warga harus bisa mengeskplorasi. Mulai dari sumber daya pakan, sampai perawatan. Sudah buat bank pakan dari limbah rumah tangga," jelasnya.
Menurut dia, berternak sebenarnya menjadi bagian kecil dalam upaya optimalisasi potensi desa. Masih banyak cara lain agar masyarakat desa jauh lebih berdaya. "Kami masih fokus ternak domba. Punya pasar dan tren bagus. Satu ekor indukan Rp 2,5 juta – Rp 4,5 juta. Mungkin ke depan menyasar bidang lain," tuturnya. (fid/pra)
Editor : Satria Pradika