BANTUL - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY mendorong pelaku usaha industri kreatif di kabupaten/kota menjalin mitra usaha usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) supaya terjadi kemitraan yang luas.
Mengingat saat ini permintaan ekspor dari negara luar tinggi.
Sekertaris Provinsi (Sekprov) DIY Benny Suharsono menjelaskan, produk yang dihasilkan pelaku usaha industri kreatif Jogja ramah lingkungan cenderung dicintai pangsa pasar luar negeri.
Standarisasi ramah lingkungan ini menjadi penting.
Sehingga pelaku usaha industri kreatif didorong mengembangkan usahanya, termasuk memperluas ke daerah lain ataupun negara lain.
"Ini harus terstandardisasi dulu, sebab jika tidak, barangnya akan balik, karena tidak memenuhi standar Eropa yang mempunyai empat musim," ucapnya saat ditemui di Trirenggo, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Sabtu (6/7/2024).
Sementara, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) yang sedang berkunjung ke Jogja juga meminta agar para pelaku usaha industri kreatif ini terus menggencarkan pemasarannya ke wilayah Eropa agar bisa dikenal di seluruh Dunia.
Menurutnya, orang-orang Eropa itu sangat menyukai hasil dari produk industri kreatif orang Indonesia.
"Cari aja, gali digital marketing, yang bisa keluar (industri kreatif, Red), pasti akan banyak ke sana. Pasar-pasar lama juga harus dikembangkan lagi," lanjutnya.
Selain Eropa, lanjut Zulhas, para pelaku usaha industri kreatif juga harus memasarkan produknya ke ASEAN.
Sebab menurutnya saat ini negara-negara yang ada di ASEAN ini menjadi besar karena memiliki uang yang banyak, dan di ASEAN itu Indonesia bisa berdagang dengan bebas dan tanpa hambatan atau bebas dari tarif ekspor.
"Jangan mereka aja yang nyerbu kita, kita juga bisa ke sana. Kita serbu mereka pakai craft, karena dia tidak bisa seperti kita," ucapnya.
Menurut Zulhas walaupun produk industri kreatif dari Indonesia tidak bisa menjadi nomor satu yang terbaik di dunia, tetapi paling tidak Indonesia bisa menampilkan produk yang berbeda dari negara-negara lain.
Baginya, produk industri kreatif Indonesia mempunyai prospek yang luar biasa.
Sebab produk yang dihasilkan terbuat dari gabungan keterampilan seni dan bahan baku alam asli Indonesia, yang tentunya tidak setiap negara punya.
"Bahan ini kalau ditanam di Barat kan nggak tumbuh. Jadi ini tidak ada lawan sebenarnya. Tinggal bagaimana bahan baku tambah banyak dan harus diimbangi dengan kreativitas yang juga harus berkembang juga," jelasnya Zulhas. (ayu)
Editor : Meitika Candra Lantiva