Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

PASAR MURAH DIY! Disperindag Sediakan 10 Ton Bahan Pokok Dijual di Bawah HET

Winda Atika Ira Puspita • Jumat, 17 Mei 2024 | 21:33 WIB

SUPER: Warga membeli beras yang dijual dalam kegiatan pasar murah di Kantor Kapanewon Depok, Sleman, Selasa (26/3). Pemprov DIY memastikan stok bahan pangan tercukupi hingga Lebaran.
SUPER: Warga membeli beras yang dijual dalam kegiatan pasar murah di Kantor Kapanewon Depok, Sleman, Selasa (26/3). Pemprov DIY memastikan stok bahan pangan tercukupi hingga Lebaran.
RADAR JOGJA - Pasar murah untuk menstabilkan harga dan pasokan di pasaran terus digencarkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, seperti di kantornya Jumat (17/5).

Masyarakat terliah anstusias dilihat dari antrean yang mengular untuk menyerbu berbagai bahan pokok yang dijual di bawah harga eceran tertinggi (HET).

Kepala Disperindag DIY Syam Arjayanti mengatakan, berbagai macam bahan pokok yang disediakan itu di antaranya beras, minyak goreng, gula pasir, telur ayam, bawang merah dan putih, tepung.

"Itu kita sediakan, totalnya 10 ton semua barang," katanya Jumat (17/5).

Syam menjelaskan beberapa komoditas tersebut dijual di bawah HET, seperti gula pasir dijual Rp 15 ribu hingga Rp 15.500 per kg dari HET Rp 17.500. Kemudian minyak goreng dari HET Rp 14 ribu dijual hanya Rp 12.500.

"Kalau beras bervariasi tergantung jenisnya, kemudian telur dijual Rp 27 ribu, bawang merah Rp 38 ribu per kg, bawang putih Rp 34 ribuan," ujarnya.

Syam menyebut, harga bahan pokok yang masih terpantau relatif tinggi saat ini adalah komoditas bawang merah.

Harga bawang merah tertinggi di pasar saat ini mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Sementara untuk bawang putih harga eceran Rp 43 ribu per kilogram.

Faktor harga bawang merah masing terpantau tinggi disebut karena sentra bawang merah terdampak banjir beberapa waktu lalu yakni di Grobogan dan Brebes Jawa Tengah.

Sehingga menyebabkan musim panen bawang merah tertunda akibat cuaca ekstrem di berbagai daerah sentra penghasil.

"Padahal bawang merah kita dari mereka, beberapa pasokan dari luar daerah. Ini yang menyebabkan saat itu terjadi (kenaikan), pas ada puasa idul fitri peningkatan kebutuhan juga sehingga harga mengalami kenaikan," jelasnya.

Meski begitu, komoditas ini tak terjadi kelangkaan di DIY.

Hal ini juga karena konsumsi bawang merah per orang diklaim tak terlalu signifikan kebutuhannya.

"Paling industri kuliner yang butuh banyak. kalau untuk keluarga nggak banyak paling berapa butir, berbeda dengan beras. jadi nggak begitu ini (terdampak langka) sih, jadi stok aman," terangnya.

Selain itu, instansi ini mencatat terjadi penurunan permintaan untuk bawang putih, gula pasir, beras juga sehingga harganya pun relatif sudah menurun. Namun justru ada kenaikan untuk beras SPHP.

"Ini kalau harganya tinggi masyarakat mencari beras SPHP, ya kan, pada saat SPHP ada kenaikan sekarang nyarinya bukan yang SPHP. Biasanya setiap ada pasar murah, beras SPHP itu selalu diserbu ya. Tapi ini kok kita amati di beberapa pasar murah, SPHP kurang diminati mungkin karena ada kenaikan harga," tambahnya.

Kegiatan pasar murah ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Sementara untuk bulan Juni mendatang akan ada 6 kali pasar murah dengan berbagai lokasi tersebar di 4 kabupaten dan 1 kota.

"Kalau bulan ini sudah selesai, Juni ada 6 kali biasanya kita kalau kemarn  sampai ke Lendah, bergantian tidak hanya di sini (Disperindag)," imbuhnya.

Salah satu warga Kota Jogja Sulis mengaku terbantu dengan adanya pasar murah ini seiring ada kenaikan harga untuk komoditas bawang merah. Sehingga bisa membeli dengan harga di bawah harga pasar.

"Alhamdulillah dapat harga murah disini ya, cukup membantu. Saya datang sejak pagi pukul 08.00," katanya. 

Editor : Bahana.
#murah #Yogyakarta #pasar #DIY #pasar murah #Disperindag