JOGJA - Momentum lebaran yang terjadi pada April lalu disinyalir akan memicu meningkatnya inflasi di DIY secara month-to-month (mtm).
Namun hal tersebut tidak terjadi. Inflasi DIY bulan April justru lebih rendah dibanding Februari dan Maret 2024.
Kepala perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Ibrahim mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, inflasi pada April sebesar 0,09 persen secara bulanan atau (mtm).
Jumlah tersebut secara akumulatif lebih rendang dibanding inflasi bulanan pada Februari 2024 yakni 0,39 persen dan pada Maret 2024 sebesar 0,43 persen.
"Melandainya inflasi didukung penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil -0,20 persen secara mtm," katanya, Sabtu (4/5/2024).
Ibrahim juga mengatakan, bahwa secara garis besar inflasi gabungan di kabupaten kota DIY juga cukup landai dan terkendali.
"Inflasi gabungan Kota Jogja dan Kabupaten Gunungkidul masih terkendali," ungkapnya.
Dikatakan, bahwa inflasi pada April 2024 dipengaruhi oleh kelompok transportasi dan perawatan pribadi dengan andil masing-masing komoditas 0,18 persen dan 0,07 persen secara mtm.
"Tarif angkutan antar kota dan tarif kereta api naik di momen lebaran, khususnya di daerah tujuan wisata dan pemudik," sebutnya.
Selain itu, harga emas juga melonjak cukup tinggi seiring kenaikan harga emas global, adapun hal tersebut merupakan dampak dari berlanjutnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Ke depannya, Ibrahim menyampaikan bahwa BI memperkirakan laju inflasi DIY bisa terus terjaga dan berada pada kisaran targetnya.
"Kami perkirakan ini bisa terus terjaga, baik secara bulanan atau tahunan," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala BPS DIJ Herum Fajarwati mencatat, inflasi April 2024 memang lebih rendah dari Februari dan Maret 2024, namun secara agregat lebih tinggi dari Januari 2024 di mana terjadi deflasi 0,02 persen.
"Sementara jika dibandingkan capaian nasional yakni 0,25 persen, inflasi DIY pada April juga masih lebih rendah dan terjaga," paparnya.
Herum merinci, beberapa komoditas yang mengalami deflasi pada bulan April antara lain adalah kategori makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,7 persen dengan andil 0,2 persen.
"Deflasi yang terjadi di kelompok ini karena sudah ada panen raya, sehingga harga beras mulai turun," bebernya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva