RADAR JOGJA - Isu pembatasan jam operasional warung Madura yang tidak diperbolehkan buka selama 24 jam jadi perdebatan. Terkait hal itu, dosen prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY Y Sri Susilo mengatakan, bahwa sejatinya keberadaan warung Madura memiliki dampak positif, terutama pada aspek perekonomian mikro.
"Banyak warung Madura di sekitar kampus, itu sangat membantu, karena banyak mahasiswa nugas, makan di malam hari dan butuh beli ke sana," katanya pada Radar Jogja, Rabu (1/5).
Ia menilai, banyaknya jumlah kampus dan demografi mahasiswa di Jogja, juga berimplikasi positif pada pertumbuhan warung Madura secara kuantitas. Perekonomian skala mikro diakuinya bergerak cukup masif di kalangan kampus karena adanya warung Madura tersebut.
"Apalagi jualannya itu juga komplit, dari makanan, kebutuhan harian hingga sembako juga ada," ungkapnya."Belum lagi, secara harga juga lebih miring dibandingkan minimarket modern.”
Susilo memaparkan, tidak cukup relevan membandingkan keberadaan warung Madura dengan minimarket modern. Karena secara segmentasi pasar, besaran modal, hingga habit pembeli juga berbeda.
Untuk minimarket modern orang-orang cenderung beli karena situasi kepepet dan pembelian yang dilakukan umumnya dalam skala kecil. Jarang untuk beli borongan. Jika ingin membeli grosir atau banyak, Susilo menyebut salah satu opsinya di warung Madura tersebut.
Faktor harga juga disebutnya cukup memengaruhi. Karena minimarket modern dengan warung Madura harganya beda. “Warung Madura apple to apple-nya dengan warung tradisional milik perorangan, bukan minimarket modern," terangnya.
Secara garis besar, Susilo sendiri tidak mempermasalahkan dengan jam operasional warung Madura selama 24 jam. Namun ia juga memiliki beberapa catatan dari hasil pengamatannya dalam bisnis yang dijalankan warung Madura tersebut.
"Warung Madura kan jual BBM juga, beberapa saya lihat tangkinya agak menonjol dan terlalu dekat dengan jalan, itu agak menganggu arus lalu lintas, boleh buka 24 jam asal jangan sampai mengganggu," pesannya. (iza/pra)
Editor : Satria Pradika