RADAR JOGJA - Emiten kendaraan listrik milik PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) melakukan ekspansi melalui pengembangan fasilitas pabrik perakitan bus dan truk listik di Magelang. Ini dilakukan guna menghadirkan solusi transportasi yang ramah lingkungan dan mempercepat elektrifikasi.
Ekspansi ini bekerja sama dengan PT Tri Sakti melalui perusahaan patungan PT VKTR Sakti Industries. Ekspansi dan pengembangan fasilitas produksi ini sekaligus mendukung program pemerintah untuk mencapai Net Zero Emission pada 2060.
Pembangunan fasilitas ini juga merupakan wujud kesungguhan VKTR dalam merealisasikan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 juncto Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) Untuk Transportasi Jalan.
Fasilitas ini akan memiliki kapabilitas untuk perakitan chassis (CKD), perakitan cabin, pengelasan, dan pengecatan. Kemudian general assembly, trimming, debugging, retrifikasi untuk body & function test, rear truck body, final audit, serta testing.
Komisaris Utama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Anindya Novyan Bakrie mengutarakan, ekspansi dan fasilitas produksi ini menjadi bagian dari VKTR untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik. "Ini menjadi upaya untuk mendukung roadmap percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis electric vehicle," paparnya saat groundbreaking fasilitas kendaraan listrik komersil pertama di Karoseri Tri Sakti, Tempuran, Magelang, kemarin (27/2).
Hingga saat ini, sudah ada 53 bus listrik TransJakarta dari VKTR yang beroperasi dan menempuh jarak sekitar 5 juta kilometer (km). Selain itu, terdapat 4 juta ton slow emission. Bahkan, setiap satu km, bus listrik dapat menampung 5 penumpang.
VKTR percaya bahwa kendaraan listrik tidak hanya suatu industri. Tetapi juga bisa membawa Indonesia menjadi terdepan dalam elektrifikasi. Untuk itu, VKTR ingin berkontribusi menyediakan fasilitas kendaraan listrik komersil pertama di Indonesia.
VKTR juga berkomitmen untuk secara bertahap meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mulai 40 persen menuju 70 persen dalam waktu 3-5 tahun. "Produksi bus saat ini mencapai 3.000 unit per tahun dan ke depan ditambah dengan truk yang bisa mencapai 10 ribu atau 20 ribu kendaraan," sebutnya.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier mengatakan, dengan kapasitas 3.000 unit produksi bus bisa mengefisiensi 172.250 ton karbon dioksida (CO2). Hal itu praktis dapat memberi dampak positif bagi lingkungan.
Pada 2023, produksi bus komersil mengalami kenaikan cukup besar. Yakni sekitar 140 persen atau 6.277 unit dari yang semula 2.590 unit. Sektor otomotif tahun 2023 tumbuh 7,68 persen di atas pertumbuhan ekonomi dan industri.
Untuk itu, dia optimistis, sektor otomotif ke depan akan semakin tinggi. Apalagi didukung dengan adanya green mobility atau mobilitas hijau minim polusi udara seperti bus maupun truk listrik. "Kami mengapresiasi dengan adanya teknologi baru dalam memproduksi bus listrik," kata Taufiek.
Menteri Perhubungan (Menhub) RI Budi Karya Sumadi mengutarakan, target awal Indonesia untuk menurunkan besaran emisi sebesar 29 persen dan meningkatkan sampai dengan 41 persen pada 2030. "Semangat untuk membangun kendaraan electric vehicle ini dapat memberikan prospek yang baik terhadap penurunan emisi," sebutnya.
Pembangunan fasilitas tersebut, akan menghasilkan kendaraan yang ramah lingkungan. Serta sesuai dengan peta jalan transformasi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) sebagai kendaraan operasional pemerintahan dan transportasi umum yang menjadi target Kemenhub. (aya/din)