Meskipun menghadapi tantangan selama masa pandemi Covid-19, bank yang 100 persen sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo ini, tetap mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.
Selalu berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan tingkat kontribusi tertinggi, selain tiga Badan Usaha Milik Daerah lainnya.
Perlu diketahui, Perumda BPR Bank Kulon Progo didirikan pada tahun 1981.
Sejak saat itu, grafik kinerjanya terus menunjukkan peningkatan. Beberapa penghargaan pun berhasil diraih.
Direktur Utama Bank Kulon Progo, Joko Purnomo SH., S. Pd., MM, menyatakan bahwa sepanjang perjalanan, Bank Kulon Progo selalu mengalami perkembangan dan pertumbuhan positif.
Namun, saat pandemi Covid-19 mempengaruhi kinerja Bank Kulon Progo . Sehingga pada saat tersebut, diperlukan kebijakan khusus agar tetap dapat bertahan.
Pada waktu itu, kebijakan yang diambil adalah membangun ekosistem dengan serius.
“Kami memberikan prioritas pada pembangunan ekosistem dengan melibatkan pemerintah daerah, Bumdes, Pemerintah Desa, dan sekolah-sekolah di wilayah Kulon Progo.
Dengan cara ini, kami dapat terus berkembang, namun tetap dengan penuh kehati-hatian, atau dapat disebut sebagai pertumbuhan moderat,” ungkap Joko Purnomo yang didampingi Direktur Kepatuhan dan Umum, Suraja SE, serta Direktur Bisnis Rita Purwanti EW kepada Radar Jogja.
Dari pengalaman tersebut, sejak pandemi Covid-19, Bank Kulon Progo memutuskan untuk terus maju, namun dengan sikap yang tidak berlebihan.
Joko, panggilan akrab Direktur Utama, memutuskan untuk menerapkan kebijakan pertumbuhan moderat dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian.
Melalui pendekatan tersebut, Bank Kulon Progo berhasil tetap mendapatkan keuntungan hingga saat ini.
“Kami menjalin kerja sama dengan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tingkat kabupaten, mitra dari berbagai perusahaan, lembaga, sekolah-sekolah, Bumdes, dan pemerintah Kalurahan se Kabupaten Kulon Progo. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan asosiasi-asosiasi pengusaha, seperti Gapensi, Gapeknas, Gapeksindo, dan lain-lain. Kami juga menyalurkan sebagian termin proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Oleh karena itu, kami juga bekerja sama dengan asosiasi kontraktor untuk menyediakan kredit modal kerja dalam pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur,” ungkapnya.
Bank Kulon Progo juga mengembangkan program tabungan khusus untuk pelajar, yaitu Tabunganku dan Simpanan Pelajar (Simpel).
Melalui program ini, Bank Kulon Progo berhasil membukukan 27.000 nasabah pelajar dengan beragam tingkat pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK.
“Sistemnya jemput bola. Meskipun terkadang melelahkan, namun melihat peluang yang ada, kami berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin,” jelasnya.
Tabungan untuk pelajar terus dikembangkan dengan harapan pertumbuhan jumlah nasabahnya dapat terus meningkat.
Direksi Bank Kulon Progo berkomitmen agar program tabungan pelajar ini berhasil, karena program ini juga berperan sebagai upaya regenerasi nasabah.
Sebab, dari hasil pemetaan, terungkap bahwa mayoritas nasabah Bank Kulon Progo adalah orang tua.
Prestasi Bank Kulon Progo dalam mencapai 27.000 nasabah pelajar ini dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa untuk sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan penghargaan kepada Bank Kulon Progo sebagai Bank Implementasi Kejar Terbaik Tingkat Nasional.
“Kami menerima penghargaan dari OJK di Jakarta, karena menjadi juara satu di Indonesia untuk kategori BPR yang berhasil menarik nasabah di kalangan pelajar hingga mencapai 27 ribu rekening,” paparnya.
Kerisku Untuk Dukung UMKM
BANK Kulon Progo memberikan pinjaman kepada Bumdes dan BUKP. Harapannya, pinjaman tersebut dapat diteruskan kepada para pelaku usaha di sekitarnya.
Lebih lanjut, total penyaluran kredit oleh Bank Kulon Progo pada tahun 2023 mencapai Rp 388,7 miliar, sementara jumlah tabungan yang berhasil dihimpun mencapai lebih dari Rp 500 miliar.
Jumlah ini terdiri dari tabungan sebesar Rp 353,5 miliar dan deposito Rp 164,6 miliar. Aset bank mencapai Rp 600 miliar pada akhir tahun 2023.
“Jumlah tersebut mungkin sedikit di bawah target, namun kami harus bersikap rasional mengingat kondisi pasca pandemi Covid-19 belum mencapai titik maksimal. Meskipun demikian, terdapat peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Selain itu, Bank Kulon Progo juga menyelenggarakan program “Gebrak Pasar,” yaitu program promosi di pasar-pasar tradisional wilayah Kulon Progo yang diadakan secara rutin.
“Sosialisasi literasi keuangan juga dilakukan terhadap para pelaku usaha, asosiasi pengusaha, dan UMKM secara berkala,” tuturnya.
Sebagai strategi promosi dan pendekatan kepada nasabah lama, Bank Kulon Progo mengadakan undian tabungan dua kali setiap tahunnya dengan hadiah utama berupa satu unit mobil.
“Dalam satu tahun, terdapat dua mobil sebagai grand prize,” ungkapnya. Selain itu, produk unggulan lain yang diperkenalkan oleh Bank Kulon Progo adalah kredit “Artha Tirta Binangun Masyarakat.’
Kredit ini merupakan bentuk dukungan untuk para pengelola usaha kelompok air minum di Kulon Progo.
“Program ini sangat menarik dan mendapatkan banyak peminat,” tambahnya.
Tentang kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kulon Progo, Bank Kulon Progo termasuk sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) penyumbang terbesar dengan rata-rata kontribusi sebesar Rp 2,5 miliar setiap tahun.
“Tidak seluruh laba disetorkan, karena sebagian ditahan untuk memperkuat kemampuan dalam menanggung risiko ke depan,” katanya.
Prestasi dan inovasi Bank Kulon Progo ini diakui ketika pada bulan April lalu, bank ini meraih TOP BUMD Award.
Di sisi lain, dalam menjalankan operasional perusahaan, Bank Kulon Progo menekankan disiplin dalam hal evaluasi dan mitigasi.
Ini dilakukan untuk mendeteksi permasalahan sejak dini yang berpotensi muncul.
Direktur Kepatuhan dan Umum Bank Kulon Progo, Suraja SE, menambahkan bahwa bank melibatkan analis, pengelola, dan penanganan dalam membangun tata kelola keuangan.
Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pencampuran fungsi, dan lebih berfokus. Kebijakan direksi dievaluasi secara berkala, baik sebelum maupun setelah implementasi.
“Kami harus mendapatkan informasi lebih awal, seperti dalam tentara di mana mereka yang memiliki informasi lebih awal akan menguasai medan pertempuran,” katanya.
Di setiap rapat direksi, pihak bank juga melakukan mitigasi risiko yang mungkin terjadi, termasuk risiko fraud.
Manajemen bersikap tegas terhadap kasus-kasus fraud, bahkan memberikan sanksi kepada karyawan yang terlibat, seperti pemotongan gaji atau penundaan kepangkatan.
Semua langkah tersebut diambil untuk menjalankan sistem yang berlaku di perusahaan, menjaga keadilan di antara karyawan, dan menjaga profesionalisme.
Proses perekrutan karyawan juga dilakukan sesuai dengan prosedur dan seleksi yang ketat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berkat Profesionalisme itu, bank mendapatkan penghargaan sebagai pengguna satpam terbaik di lingkungan Polda DIY, yang diberikan langsung oleh Kapolda DIY. (cr5/jko/gp)
Editor : Bahana.