Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inovatif, Pasangan Alumni UNY Dapatkan Sertifikasi Halal Karena Gunakan Malam Berbahan Sawit Untuk Batik

Fahmi Fahriza • Kamis, 11 Januari 2024 | 23:00 WIB
KREASI: Miftahudin Nur Ihsan dan Dinar Indah Lufita Sari mengenakan produk batik mereka yang menggunakan malam berbahan dasar sawit.
KREASI: Miftahudin Nur Ihsan dan Dinar Indah Lufita Sari mengenakan produk batik mereka yang menggunakan malam berbahan dasar sawit.

JOGJA - Inovasi yang cukup menarik dilakukan oleh pasangan suami istri Miftahudin Nur Ihsan dan Dinar Indah Lufita Sari lewat brand mereka Smart Batik.

Mereka berhasil menorehkan prestasi dan menjadi pelopor industri batik bersertifikat halal di Indonesia.

Ihsan mengungkapkan, Smart Batik memperoleh sertifikat halal setelah melalui serangkaian proses validasi, mulai dengan pendaftaran, pengisian data, dan proses audit yang dilakukan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).

Selain itu, juga menyesuaikan dengan UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH).

"Disebutkan bahwa seluruh produk di Indonesia wajib bersertifikat halal, kecuali produk haram dan produk yang dikecualikan dari kewajiban sertifikasi halal,” kata alumni pendidikan Kimia UNY tersebut, Kamis (11/1).

Ia menuturkan, Smart Batik merupakan brand yang sudah digagasnya semenjak berkuliah di UNY.

Kebetulan, baik Ihsan maupun sang istri, juga merupakan alumni alumni Fakultas MIPA UNY.

Ihsan merupakan alumni pendidikan Kimia 2016 yang saat ini menjabat sebagai CEO. Dinar adalah alumni program studi kimia 2018.

Ihsan merinci, inovasi pemanfaatan sawit dalam proses produksi batik merupakan hal yang terhitung baru.

Secara umum, biasanya malam yang digunakan untuk membatik menggunakan parafin.

Namun, disebutnya, parafin selama ini bersumber dari minyak bumi.

Selain tidak ramah lingkungan, parafin juga kebanyakan impor dan tidak terbarukan.

Maka, lantas disubtitusi dengan sawit agar mendukung hilirisasi produk sawit.

"Yang membuat ini halal adalah karena sawit itu kategorinya nabati, ini juga termasuk langkah untuk hilirisasi sawit," sambungnya.

Berkat inovasi tersebut, akhirnya ia mendapat sertifikasi halal yang dalam prosesnya di audit oleh LPH BBSPJIKB (Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik) atau yang lebih dikenal dengan Balai Batik.

Sementara itu, sang istri, Dinar turut membeberkan, sejak Agustus 2023 lalu Smart Batik menjadi UMKM Sawit dan menjalin mitra dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dengan mengembangkan industri batik sawit.

Bukan hanya malam dari sawit, juga pewarnaan menggunakan bahan alami dari tanaman sawit.

“BPDPKS menyadarkan kami, sawit punya potensi yang luar biasa untuk di riset. Beberapa bagian tanaman ini juga dapat dipakai sebagai pewarna alami,” kata mahasiswi doktoral kimia analisis tersebut.

Ihsan maupun Dinar berharap, ke depan produk Smart Batik yang sudah bersertifikat halal dapat lebih diterima oleh pasar. Khususnya, pasar global.

Sebab, saat ini terjadi peningkatan permintaan produk halal di tingkat internasional.

"Saya melihat prospek ke depannya ini secara branding akan lebih kuat, dan ini aturan pemerintah maka harus dikerjakan," tandasnya. (iza)

Editor : Amin Surachmad
#bersertifikat halal #Batik #UNY