Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Kedelai Tinggi Perajin Tempe DIJ Bakal Kurangi Ukuran, FTI : Perlu Edukasi Agar Bisnis Bisa Survive 

Iwan Nurwanto • Kamis, 23 November 2023 | 21:50 WIB

Suasana acara Tempe & Sustainbility yang diselenggarakan oleh Forum Tempe Indonesia (FTI) di Sleman, Kamis (23/11). // Iwan Nurwanto
Suasana acara Tempe & Sustainbility yang diselenggarakan oleh Forum Tempe Indonesia (FTI) di Sleman, Kamis (23/11). // Iwan Nurwanto

SLEMAN, RADAR JOGJA - Dampak tingginya harga kedelai seperti sekarang sangat dirasakan oleh pengrajin tempe dan tahu di Jogjakarta.

Bahkan tidak menutup kemungkinan para pengrajin akan mengurangi ukuran atau menaikkan harga komoditas berbahan dasar kedelai tersebut.

Ketua Pusat Koperasi Tempe-Tahu Indonesia (Puskopti) DIJ Tri Harjono mengatakan, para pengrajin tahu dan tempe sejatinya memang sudah terbiasa dengan harga kedelai yang fluktuatif.

Sehingga yang dapat dilakukan hanya mengurangi ukuran atau menaikkan harga. 

Tri mengaku, untuk saat ini para perajin memang belum melakukan dua hal tersebut lantaran harga kedelai masih dalam batas wajar.

Baca Juga: MA Benarkan Keputusan Gusti Prabu Tak Mengesahkan dan Melantik Kepengurusan PMI Kota Jogja

Yakni Rp. 12.050 ribu per kilogram. Perajin dapat mengurangi ukuran atau menaikkan harga tahu dan tempe ketika melebihi batas tersebut.

“Harga keekonominisan kedelai itu sekitar Rp. 10 sampai 11 ribu per kilogram idealnya, kalau harganya lebih dari Rp. 12 ribu pasti kita kurangi ukuran tahu dan tempe-nya,” ujar Tri saat ditemui Radar Jogja, Kamis (23/11).

Lebih lanjut, Tri menyatakan, bahwa perajin tahu-tempe di Jogjakarta sampai saat ini memang masih mengandalkan pasokan kedelai impor.

Lantaran untuk kedelai lokal ketersediaannya cukup minim dan lebih banyak dialokasikan untuk benih.

Menurut dia, dari segi rasa kedelai lokal lebih unggul jika dibuat menjadi tahu dan tempe. Namun dari segi volume, lebih unggul kedelai impor atau tahu dan tempe yang dibuat cenderung lebih mengembang.

“Konsumsi kedelai se-DIJ  tiap kabupaten sekitar 150 ton per bulan dan itu impor semua,” terang Tri.

Sementara itu, Sekretaris Jendral Forum Tempe Indonesia (FTI) Muhammad Ridha menyampaikan, naik turunnya harga kedelai dipengaruhi banyak faktor.

Di antaranya karena kurs rupiah terhadap dolar, biaya logistik, dan harga kedelai itu sendiri.

Mensikapi hal itu, Ridha meminta agar para pengrajin kompak menjaga margin. Yakni dengan tidak menurunkan harga tempe ketika harga baku atau kedelai mulai mengalami penurunan.

“Yang terjadi di lapangan saat harga baku turun pengrajin beramai-ramai menurunkan harga. Sehingga saat kedelai naik pengrajin lagi-lagi berteriak, perlu edukasi tentang menjalankan bisnis agar bisa survive,” terang Ridha. (inu)

Editor : Bahana.
#DIJ #tempe #kedelai