RADAR JOGJA - Seluruh kemantren se-Kota Yogyakarta yang berjumlah 14 kemantren menggelar peringatan 11 Tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY. Setiap kemantren menunjukkan potensi wilayahnya. Salah satunya, Kemantren Kraton yang menyajikan kegiatan bertajuk Njeron Beteng living museum di Pendapa Ndalem Pakuningratan di kawasan Ngasem kemarin (30/8).
Ndalem Pakuningratan ini punya sejarah penting. Di salah satu kamar ndalem tersebut Sultan Hamengku Buwono IX lahir pada 12 April 1912. Namanya sewaktu muda Gusti Raden Mas (GRM) Dorodjatun. Ayahnya bernama Gusti Pangeran Harya Purubaya yang kelak naik takhta sebagai Sultan Hamengku Buwono VIII. Ibundanya bernama Raden Ajeng Kustilah.
Ndalem Pakuningratan juga dikenal sebagai Ndalem Sompilan. Di era 1951 pernah digunakan sebagai kampus Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (Asdrafi). Kampus ini bubar pada 2006 silan.
Kembali ke acara Njeron Beteng living museum, selama acara pengunjung disuguhi bentangan kain berisi tulisan sejarah. Mulai sejarah Njeron Beteng hingga sejarah Bangunan Cagar Budaya Ndalem Pakuningratan. Bentangan kain itu juga ada penjelasan filosofi pakaian Takwa Surjan, ageman blangkon gaya Ngayogyakarta, dan penjelasan mengenai unggah-ungguh Bahasa Jawa.
Pengunjung juga diajak mempelajari cara membatik tulis. Ada juga spot khusus menghadirkan kuliner hingga jamu tradisional. Pengunjung Njeron Beteng Living Museum diajak kembali memainkan permainan tradisional yang mulai langka seperti egrang dan bakiak.
Gelaran dimulai pada pukul 09.00. Pengunjung berasal dari berbagai kalangan mulai dari pelajar TK hingga SD. Ini sebagai wujud implementasi belajar langsung di lapangan. Ada juga wisatawan dan para penggemar museum.
Mantri Pamong Praja Kraton Sumargandi menjelaskan, living museum semacam ini baru pertama kali . Dia mengaku masih awam menyajikan cerita sejarah dalam kemasan living museum. Selama persiapan, Sumargandi mengerahkan warganya mengikuti workshop di tingkat kemantren hingga di tingkat kota. “Ini masih awal karena potensi di Kemantren Kraton itu kalau dibuat living museum bisa berhari-hari.” (isa/kus/gp)