RADAR JOGJA – Seni batik diharapkan dapat menjangkau kaum milenial yang penuh ide-ide inovatif dan kreatif. Sebab generasi ini akan menjaga kelestarian dan mengembangkan batik.
"Dengan pembaharuan yang selalu update," tegas Ketua Harian Dekranasda DIJ Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam pada seminar batik internasional Selasa (29/8/23).
Menurutnya, batik juga dapat dikembangkan secara lebih fleksibel dalam menyikapi berbagai batasan formal. "Batik dapat berkembang lebih luas dengan dinamis namun tetap bijaksana, tanpa meninggalkan pakem dasarnya," sambungnya.
Terlebih dengan adanya Jogja International Batik Biennale (JIBB) pada Oktober mendatang yang mengusung tema Borderless Batik dengan sub tema Sustainable and Marketability. Saat ini hampir di semua pusat perbelanjaan di wilayah DIJ juga pasti ada outlet batik. Tumbuhnya UMKM batik juga terus meningkat dan diharapkan para desainer makin memperkaya karya yang dihasilkan.
"Para desainer muda mulai melirik batik sebagai salah satu pilihan dalam memperkaya karya-karya mereka," lontarnya.
Terpisah, Sekda DIJ Beny Suharsono menjelaskan, Jogja adalah Kota Batik Dunia sebagaimana yang telah dinobatkan sejak sembilan tahun silam.
"DIJ pada 18 Oktober 2014 telah dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council (WCC) di Dongyang, China," sebut Beny.
Penghargaan tersebut diberikan karena DIJ dinilai telah memenuhi tujuh kriteria kota kerajinan dunia yang dipersyaratkan oleh WCC. Antara lain adalah nilai historis, orisinalitas, upaya konservasi melalui regenerasi, nilai ekonomi, ramah lingkungan, hingga konsistensi.
Beny pun berharap, agar kesempatan yang baik tersebut dapat dimanfaatkan untuk saling belajar, berdiskusi, serta memperkuat jejaring. Demi pengembangan serta menemukan praktik terbaik dalam konteks keberlanjutan batik. "Mari kita pastikan seluruh rangkaian JIBB berlangsung dengan lancar dan dikembangkan hingga ke tataran outcome atau manfaat," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika