Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiga BBM Nonsubsidi Naik Per 1 Agustus Kok Tidak Terasa, Ini Penjelasan Pakar Ekonomi

Wulan Yanuarwati • Senin, 7 Agustus 2023 | 01:47 WIB
BAHAN BAKAR: Ilustrasi pom bensin. (Radar Jogja File)
BAHAN BAKAR: Ilustrasi pom bensin. (Radar Jogja File)

 

RADAR JOGJA - PT Pertamina menaikkan tiga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terhitung mulai 1 Agustus 2023. Tiga BBM nonsubsidi yang harganya naik ialah Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Kenaikan BBM nonsubsidi berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Provinsi DIY termasuk yang terdampak kenaikan BBM nonsubsidi tersebut. Harga Pertamax turbo di DIY Rp 14.400, Dexlite Rp 13.950 dan Pertamina Dex Rp 14.350.

Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Y. Sri Susilo mengataka, kenaikan BBM baik subsidi maupun nonsubsidi berdampak pada perekonomian. Namun, dampaknya ada kecenderungan berbeda.

"Berdasarkan beberapa kajian, memang yang kenaikan subsidi berdampak lebih besar daripada yang nonsubsidi," tegasnya, Minggu (6/8/2023).

Dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak terlalu signifikan, bahkan ada kecenderungan tidak terasa bagi sebagian orang. Hal ini dikarenakan segmen pengguna berbeda, yang kemudian menyebabkan multiplier effect pada harga barang lainnya.

"Karena yang subsidi kan biasanya banyak digunakan untuk konsumsi oleh transportasi umum, seperti bus, truk, angkutan umum lainnya. Sehingga dampaknya secara ekonomi tetap lebih signifikan daripada yang nonsubsidi," jelasnya.

"Karena subsidi konsekuensi untuk angkutan umum, kalau naik berarti biaya transportasi naik kemudian harga barang naik," imbuhnya.

Sri menilai pengguna BBM nonsubsidi pada umumnya konsumen rumah tangga atau perusahaan. Sehingga dampaknya mengarah pada pegeluaran yang lebih besar dan berpengaruh pada daya beli. Sedangkan pendapatan mereka mungkin stagnan.

"Bagi konsumen BBM nonsubsidi ini harus mengeluarkan duit yang lebih besar, harus mengeluarkan anggaran lebih besar, berdampak jika pendapatan mereka tetap, tentu akan mengurangi pendapatan yang bisa ditabung dan daya beli mereka berkurang," jelasnya.

Meski daya beli berkurang, konsumen rumah tangga biasanya memilih tetap memilih menggunakan BBM nonsubsidi. Namun dengan catatan, sepanjang kenaikan tidak tinggi. Sri mencontohkan, jika kenaikan kurang dari Rp 1.000 maka konsumen bertahan.

"Tergantung kenaikan, bisa (beralih) iya, bisa gak. Kalau kenaikan pertamax dan turbo kalau selisih Rp 1.000 bisa tetap milih pertamax tapi kalau selisih Rp 3.000 bisa beralih," ujarnya.

"Selisih Pertamax dan Pertalite gak auh, coba selisihnya jauh bisa berubah jadi Pertalite," imbuhnya.

Lebih lanjut Sri mengatakan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi karena harga minyak dunia yang naik dan turun. Jika kenaikan minyak dunia tinggi, BBM subsidi sebetulnya juga bisa ikut naik. Namun jika naik tidak tinggi, biasanya tidak ada penyesuaian harga BBM subsidi.

"Tapi nonsubsidi ini floating, bisa naik dan turun. Untuk penyesuaian," ujarnya.

Sementara itu, seorang pekerja swasta, Arif, mengaku justru tidak mengetahui ada kenaikan BBM nonsubsidi. Setiap harinya dia bekerja dari Bantul ke Sleman cukup jauh dan tetap menggunakan BBM nonsubsidi.

"Malah gak tau naik. Tetap pakai pertamax kok. Nggak terasa. Mungkin karena barang-barang gak ikut naik," ujarnya singkat. (lan)

Editor : Amin Surachmad
#pertamax #Harga bahan bakar minyak #pertamina