RADAR JOGJA - Para pelaku UMKM di wilayah DIJ masih mengalami kendala dalam menarik konsumen dari luar negeri. Bahkan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) DIJ turut membantu dengan mengeluarkan program SibBakul gratis ongkos kirim. Tentunya, program ini termasuk layanan pengiriman gratis untuk pelanggan dari luar negeri.
"Kami ada gratis ongkir untuk pengiriman ke luar negeri kepada mitra UMKM sampai akhir tahun nanti," beber Koordinator Konsultan PLUT Diskop UKM DIJ Wahyu Tri Atmojo Selasa (27/6/23).
Secara umum, ada syarat dan ketentuan dalam pemanfaatan program gratis ongkir. Yakni pelaku UMKM harus terintegrasi dengan program SiBakul dan menjadi UMKM binaan Diskop UKM DIJ. "Selain menjadi mitra, legalitas usaha juga jadi pertimbangan untuk mengirimkan produk mereka ke luar negeri," lanjut Wahyu.
Dalam menyosialisasikan program tersebut, Diskop DIJ juga memberikan penjelasan mengenai cara menggaet konsumen luar negeri. Sebanyak 54 UMKM pun mengikuti workshop regular bertajuk Kelas Bisnis Selasa Pagi (KBSP).
Turut menghadirkan eksportir dan produsen kerajinan dari CV Palem Craft Jogja Deddy Effendy sebagai pemateri. Deddy mengungkapkan, secara produk, UMKM di DIJ sudah siap untuk dapat bersaing di market global. Tapi secara kualitas, memang perlu diuji coba terlebih dahulu. “Jadi fokusnya sekarang di sustainability produk," lontar Deddy.
Lalu jika dilihat dari aspek regulasi, Deddy menyebut, masih banyak UMKM yang tidak mengetahui regulasi di setiap negara. Hal tersebut jadi salah satu kendala utama yang menghambat pertumbuhan untuk memperluas konsumen luar negeri.
"Setiap negara itu berbeda regulasi, sementara mengurus regulasi dan verifikasi itu juga butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit," paparnya.
Dari pengalaman ekspor-impor yang dilakukannya, Deddy mengakui, Eropa jadi market yang regulasinya paling mudah. Jika dibandingkan dengan Amerika, Afrika, dan Timur Tengah.
Untuk menyiasati regulasi tersebut, pelaku UMKM bisa memetakan produk mereka dengan potensial market secara spesifik. Seperti di Eropa yang kini cukup besar kebutuhan produk eco friendly.
"Produk itu lebih mudah dijual karena terbukti permintaan di luar negeri juga tinggi, Indonesia harusnya sudah siap untuk menyuplai kebutuhan dari berbagai negara tersebut," pesannya. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika