RADAR JOGJA - Seni olah kain bertajuk ecoprint kian marak digeluti sebagai bidang usaha. Ecoprint dipilih karena disinyalir lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi limbah kimia tekstil karena minim menggunakan mesin dan juga bahan kimia yang dipakai dalam prosesnya.
Artisan ecoprint di wilayah DIJ Didin Jamaludin mengungkapkan, ecoprint merupakan seni olah kain yang berbeda dengan batik. "Ecoprint itu tidak melibatkan proses menggunakan canting dan pembuatannya pun berbeda," tegasnya pada Radar Jogja Selasa (27/6/23).
Secara proses pembuatan ecoprint dibagi menjadi dua metode. Yakni metode pukul dan kukus. Metode pukul sendiri, menggunakan daun untuk membentuk motif pada kain kemudai dipukul dengan palu. Sementara metode kukus, kain direndam dan dilakukan proses pengukusan 1-2 jam. "Teknik pukul itu lebih organik karena murni menggunakan tangan tanpa alat bantu mesin," lanjut Didin.
Didin menyebut, pelaku atau artisan ecoprint semakin marak saat pandemi. Ditambah masyarakat yang semakin peduli dengan menggunakan produk ramah lingkungan.
"Pelaku ecoprint kini membludak, yang tergabung di komunitas online saat ini ada sekitar 18 ribu pelaku seluruh Indonesia," ungkapnya.
Hal itu pun semakin memacunya untuk selalu inovatif dan kreatif dalam membuat desain. Sebab produk ecoprint selalu memiliki motif yang berbeda. Dalam pelaksanaannya, Didin banyak menggunakan daun-daun dari tanaman liar. Atau daun yang mempunyai kandungan pewarna alami tinggi. "Seperti marenggo, kenikir, dan jenitri," lontarnya.
Untuk harga, Didin mematok ecoprint buatannya dari Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu untuk produk baju atau kain yang berukuran dua meter.
Saat ini Didin memproduksi ecoprint di rumah produksinya yang berada di bilangan Tamansiswa.
Dalam satu hari, Didin bisa memproduksi 5-10 kain dengan metode pukul. Setiap kain, biasanya membutuhkan waktu satu jam pengerjaan.
Didin optimistis, ecoprint bisa makin marak dan mendapat market yang lebih luas. Karena bisa dikombinasikan dengan luaran produk-produk lainnya. "Bisa dikembangkan menjadi crafting, lukisan, hingga home decor," sebutnya. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika