Lewat pameran ini, diharapkan dapat mewadahi pelaku UMKM di Jogja untuk meningkatkan kemampuan mengelola brand. Serta melatih para UMKM untuk melakukan business matching.
"42 UMKM itu telah kami kurasi dan ada business matching oleh para pelaku UMKM yang ingin kami capai," beber Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Jogja Tri Karyadi Riyanto.
Proses kurasi yang dilakukan meliputi beberapa aspek. Seperti keseuaian tema. Dalam hal ini mengakomodi tenant craft, culinary, dan fahion.
Selain itu, pertimbangan lain adalah legalitas usaha para pelaku UMKM, seperti ari HAKI, merek, dan hak cipta. Hingga sertifikasi halal dan BPOM bagi tenant makanan.
"Kami menyaring lebih dari 100 UMKM terdaftar sampai akhirnya terpilihlah 42 tenant," sebut Karyadi.
Dalam pelaksanaannya, Kadin DIJ, BPD DIJ, dan BPJS ketenagakerjaan turut terlibat. Dalam hal ini, BPJS Ketenagakerjaan memberikan jaminan kematian dan program kesehatan kepada para pelaku UMKM.
BPJS Ketenagakerjaan turut memberikan santunan kepada perwakilan keluarga dari salah satu pelaku UMKM yang sudah ikut dalam program mereka dan meninggal dunia pada Januari lalu. "Tadi juga ada santunan, karena almarhum ikut di program BPJS dan bagian dari UMKM binaan kami juga," ujarnya.
Sekretaris Daerah Kota Jogja Aman Yuriadijaya mengapresiasi atas pameran yang dilakukan sebagai salah satu upaya menghadirkan business matching di sektor riil.
"Hari ini adalah upaya kita semua untuk menghadirkan sesuatu yang menumbuhkan ekonomi riil, dan harus berlanjut bahkan ketika pameran selesai," pesannya.
Aman berharap, ke depan terjadi perbaikan dan penyempurnaan dari pameran sebelumnya. Diakuinya prinsip dasar ekosistem bertumbuh adalah ketika ada interaksi dan pengembangan kualitas dan kuantitas yang dilakukan secara kolektif.
"Sinergi UMKM harus terjadi dengan baik dengan ragam stakeholder lewat jejaring yang maksimal, agar business matching bisa terjadi berkelanjutan juga," tandasnya. (cr1/eno/sat)
Editor : Satria Pradika